Paguyuban Arema dan Warga Manggarai Rayakan 1 Muharram dengan Nuansa Budaya

  • 23 Jun 2026 09:25 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai – Tradisi Suroan dan Sedekah Bumi dalam rangka memperingati 1 Muharram 1448 Hijriah berlangsung meriah di Gendang Rai, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Minggu (21 Juni 2026). Kegiatan yang digelar Paguyuban Arema dan Arek Jawa Timur Manggarai ini menjadi ruang pertemuan budaya Jawa Timur dan Manggarai dalam suasana penuh kebersamaan.

Acara terselenggara berkat kolaborasi Paguyuban Arema bersama Majelis Al-Hikmah dan Majelis Cahaya Hati, serta didukung PT PLN (Persero) Unit Layanan Pelanggan Ruteng.

Rombongan Paguyuban Arema disambut ratusan warga dan tokoh adat setempat melalui ritual adat Manggarai seperti Tuak Kapu, Adak Reis, Teing Loce, dan Caca Kope sebagai bentuk penghormatan dan penerimaan secara adat.

Usai prosesi adat di Rumah Gendang, rombongan bergerak menuju Lapangan Sepak Bola Rai sambil diiringi tarian khas Jawa Timur. Arak-arakan membawa nasi tumpeng, sayur-mayur, dan berbagai hasil bumi yang kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Suasana semakin semarak dengan penampilan pencak silat, Tari Jai, Tari O Bela, Bantengan, dan Kuda Lumping. Warga dari berbagai usia tampak antusias mengikuti rangkaian acara meski cuaca sempat diguyur gerimis.

Tokoh Adat Gendang Rai, Romanus, menilai kegiatan tersebut menjadi jembatan penting untuk mempererat hubungan sosial lintas agama, suku, dan budaya.

Sementara itu, Camat Ruteng, Sebas Jandu, mengatakan Sedekah Bumi memiliki makna berbagi tanpa mengharapkan imbalan serta memperkuat semangat kebersamaan.

“Kita boleh berbeda suku, berbeda agama, berbeda adat budaya, tetapi kita berada di bawah payung besar Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan serupa terus digelar agar generasi muda semakin memahami pentingnya persatuan dalam keberagaman.

Pembina Paguyuban Arema, Sunardi, menjelaskan tradisi Sedekah Bumi dalam budaya Jawa memiliki filosofi yang mirip dengan upacara adat Penti Weki di Manggarai, yakni sama-sama mengungkapkan rasa syukur atas hasil bumi dan kehidupan yang harmonis.

“Persatuan menimbulkan kerukunan, pertikaian akan menimbulkan kerusakan,” kata Sunardi.

Di akhir acara, panitia membagikan hasil bumi dan makanan ringan kepada anak-anak. Suasana penuh tawa dan kegembiraan menutup rangkaian kegiatan yang meninggalkan kesan mendalam tentang harmoni budaya Jawa Timur dan Manggarai di bumi Nucalale.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....