Lemahnya Integrasi Program Pemerintah Jadi Tantangan Pangan Lokal di Flores

  • 15 Jun 2026 06:56 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende - Ketua Yayasan Tana Nua Flores, Hironimus Pala, menilai koordinasi antarorganisasi perangkat daerah (OPD) dalam pelaksanaan program pembangunan masih lemah. Dalam Dialog Asta Cita bersama RRI pada 11 Juni 2026, ia menyebutkan setiap dinas cenderung menjalankan program sektoral tanpa perencanaan terpadu di lapangan.

Menurut Hironimus, orientasi pembangunan yang terlalu berfokus pada aspek ekonomi telah mendorong masyarakat mengutamakan komoditas bernilai jual tinggi dibanding kebutuhan pangan sehari-hari. Ia mencontohkan pengembangan jagung hibrida, padi hibrida, kakao, dan kopi yang dinilai lebih diarahkan untuk pasar daripada ketahanan pangan keluarga.

Ia menjelaskan berbagai dinas masih cenderung mengedepankan program masing-masing, seperti perkebunan yang fokus pada kakao dan kopi serta kehutanan yang berorientasi pada pengembangan kawasan hutan. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat kebutuhan pangan lokal masyarakat kurang mendapat perhatian yang memadai.

Hironimus juga menyoroti program bantuan beras yang telah berlangsung sejak awal 1990-an dan terus berlanjut hingga saat ini dengan berbagai perubahan nama. Ia menilai bantuan pangan semestinya diarahkan pada program padat karya pangan yang mendorong masyarakat menanam ubi, pisang, talas, dan berbagai jenis pangan lokal lainnya.

Menurutnya, pendekatan tersebut akan memperkuat ketersediaan pangan lokal dalam jangka panjang sekaligus menjaga keberagaman sumber pangan masyarakat. Sebaliknya, jika pola bantuan yang ada terus dipertahankan tanpa perubahan, upaya pelestarian pangan lokal akan semakin sulit diwujudkan.

Ia mengungkapkan Desa Rutu Jaya menjadi contoh keberhasilan kedaulatan pangan berbasis sumber daya lokal. Berdasarkan kajian yang dilakukan Yayasan Tana Nua Flores tiga tahun lalu, desa tersebut tidak bergantung pada pasokan beras dari luar sejak berdiri sebagai desa definitif.

Hironimus menambahkan masyarakat di sejumlah desa wilayah utara Flores masih mempertahankan konsumsi pangan tradisional, termasuk gadung. Ia menilai kebiasaan tersebut menunjukkan kekayaan budaya pangan lokal yang perlu terus dipelihara dan dikembangkan sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan daerah.

Ia menegaskan penguatan pangan lokal harus menjadi agenda bersama yang didukung koordinasi lintas sektor. Dengan demikian, pembangunan pertanian tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga menjamin ketersediaan pangan yang beragam, sehat, dan berkelanjutan bagi masyarakat.Kedaulatan Pangan Lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....