Warisan Pangan Lokal Didorong Jadi Kebanggaan Generasi Muda

  • 03 Jun 2026 19:45 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • CLBK Pro Dua RRI Ende menghadirkan Suster Tia FCJ dari Yayasan Flores Bumi Lestari.
  • Buku Warisan Pangan Lokal dan Tradisi Kuliner Desa Ondorea Barat dan Timbazia diluncurkan pada 28 April 2026.
  • Buku mendokumentasikan resep, budaya, ritual adat, dan kalender pertanian tradisional.
  • Desa Ondorea Barat dan Timbazia dipilih karena konsisten melestarikan tanaman sorgum.
  • Penelitian melibatkan 15 pemuda lokal sebagai Food Heroes.
  • Program Jelajah Pangan menjadi tindak lanjut untuk edukasi anak-anak.
  • Gerakan ini mendorong pangan lokal menjadi bagian identitas dan gaya hidup generasi muda.

RRI.CO.ID, Ende - Program CLBK Pro Dua RRI Ende menghadirkan diskusi edukatif bersama Suster Tia FCJ dari Yayasan Flores Bumi Lestari, Rabu 29 April 2026. Obrolan tersebut mengangkat upaya pelestarian pangan lokal melalui dokumentasi tradisi kuliner masyarakat Kabupaten Ende berkelanjutan.

Salah satu fokus pembahasan adalah peluncuran buku berjudul Warisan Pangan Lokal dan Tradisi Kuliner Desa Ondorea Barat dan Timbazia. Buku tersebut resmi diperkenalkan kepada publik pada 28 April 2026 melalui kegiatan yang melibatkan berbagai pihak.

Peluncuran buku dihadiri puluhan peserta lintas sektoral mulai pemerintah, tokoh gereja, masyarakat adat, hingga PKK. Kegiatan itu juga dilengkapi forum diskusi kelompok guna menyusun strategi penyebarluasan informasi kepada masyarakat luas.

“Perubahan besar tidak harus lahir dari hal baru, tetapi dari penghargaan terhadap hal sederhana sekitar,” ujar Suster Tia. Pernyataan tersebut menjadi benang merah yang menjelaskan filosofi utama penyusunan buku mengenai warisan pangan lokal.

Desa Ondorea Barat dan Timbazia dipilih karena masyarakatnya masih konsisten membudidayakan sorgum sebagai pangan warisan leluhur. Selain resep tradisional, buku itu mendokumentasikan nilai budaya, ritual adat, serta kalender pertanian masyarakat.

Proses pengumpulan data melibatkan lima belas pemuda lokal yang dilatih menjadi Food Heroes selama penelitian berlangsung. “Anak muda berperan penting menjaga pengetahuan pangan agar tidak hilang bersama perubahan generasi,” kata Suster Tia.

Sebagai tindak lanjut, yayasan menjalankan program Jelajah Pangan bagi siswa sekolah dasar dan menengah pertama. Melalui kegiatan lapangan, peserta diajak mengenal tanaman pangan lokal agar memahami sumber makanan di sekitarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....