Yosef Dentis: Pancasila Benteng Persatuan Bangsa Indonesia

  • 31 Mei 2026 11:19 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Yosef Dentis menegaskan Pancasila tetap relevan sebagai kompas moral di era digital.
  • Ende disebut memiliki posisi penting dalam sejarah lahirnya nilai-nilai Pancasila melalui perenungan Bung Karno.
  • Ancaman persatuan bangsa kini hadir dalam bentuk hoaks, disinformasi, intoleransi, dan lunturnya budaya lokal.
  • Pancasila dinilai menjadi benteng persatuan yang menjaga keutuhan Indonesia di tengah keberagaman.
  • Akademisi dan literasi digital berperan penting dalam membangun kesadaran serta menangkal dampak negatif informasi digital.

RRI.CO.ID, Ende - Kepala Pusat Studi Pancasila Universitas Flores (Uniflor), Yosef Dentis, menegaskan bahwa Pancasila tetap relevan sebagai kompas moral dalam menghadapi berbagai tantangan di era digital. Pernyataan itu disampaikannya dalam Dialog Astacita spesial Hari Lahir Pancasila yang diselenggarakan RRI Ende, Sabtu, 30 Mei 2026.

Menurut Yosef, Ende memiliki makna historis yang sangat penting bagi Indonesia karena menjadi tempat perenungan Bung Karno dalam merumuskan nilai-nilai dasar yang kemudian melahirkan Pancasila. Karena itu, Ende tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Flores dan Nusa Tenggara Timur, tetapi juga bagian penting dari sejarah kebangsaan Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa ancaman terhadap persatuan bangsa saat ini tidak lagi berbentuk penjajahan fisik, melainkan hadir melalui hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, intoleransi, hingga lunturnya identitas budaya lokal. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengikis persatuan dan kesatuan bangsa jika tidak diantisipasi secara bersama-sama.

Yosef menyebut Pancasila sebagai benteng persatuan yang mampu menjaga keutuhan Indonesia di tengah keberagaman suku, budaya, bahasa, dan keyakinan. Nilai kemanusiaan, persatuan, dan keadilan yang terkandung dalam Pancasila dinilai tetap menjadi dasar penting dalam membangun ruang digital yang sehat dan bertanggung jawab.

Dalam pandangannya, perkembangan teknologi tidak bertentangan dengan Pancasila karena keduanya memiliki fungsi yang saling melengkapi. Teknologi menjadi sarana kemajuan, sedangkan Pancasila berperan memberikan arah agar perkembangan tersebut tidak digunakan untuk merusak persatuan bangsa.

Yosef juga menekankan pentingnya literasi digital, pendidikan, serta kesadaran masyarakat untuk memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya. Ia menilai kalangan akademisi memiliki peran strategis sebagai penjaga nalar, penuntun kesadaran, dan penguat nilai-nilai kebangsaan agar generasi muda mampu menghadapi tantangan digital tanpa kehilangan identitas keindonesiaannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....