Budaya Patriarki Hambat Kesetaraan Gender Perempuan
- 13 Mei 2026 20:49 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Budaya patriarki dan kuatnya tradisi masyarakat dinilai masih menjadi hambatan terbesar dalam perjuangan kesetaraan gender perempuan. Pandangan bahwa perempuan hanya bertugas mengurus rumah tangga disebut masih ditemukan di berbagai daerah, terutama di wilayah pedesaan.
Hal tersebut disampaikan dalam dialog Pengarusutamaan Gender yang disiarkan RRI Ende, Senin, 11 Mei 2026. Sr. Florensia, SSps selaku Tim JPIC Ende menjelaskan bahwa pola pikir masyarakat yang sulit menerima perubahan membuat perempuan kerap mengalami ketidakadilan. Menurut Sr. Florensia, masih banyak masyarakat yang menganggap laki-laki lebih pantas menjadi pemimpin dibandingkan perempuan. Bahkan, perempuan yang maju sebagai kepala desa atau terlibat dalam ruang publik sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat.
“Tantangan terbesar itu budaya patriarki dan masyarakat yang masih mempertahankan tradisi lama,” katanya.
Ia menilai pola pikir tersebut membuat perempuan sulit memperoleh kesempatan yang sama dalam bidang pendidikan maupun kepemimpinan. Selain budaya patriarki, keterbatasan pendidikan juga menjadi faktor penghambat kesetaraan gender.
Perempuan di daerah terpencil dinilai masih minim akses pendidikan dan informasi sehingga sulit memahami hak-haknya sebagai perempuan, ungkapnya. Sr. Florensia berharap masyarakat mulai membangun pola pikir yang lebih terbuka terhadap kesetaraan gender.
Ia menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki martabat yang sama serta berhak memperoleh kesempatan setara dalam kehidupan sosial maupun pendidikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....