Hardiknas Tekankan Kolaborasi Semesta Wujudkan Pendidikan Berkualitas

  • 02 Mei 2026 10:41 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Hardiknas 2026 menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak dalam pendidikan.
  • Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama, tidak hanya sekolah.
  • Tantangan pendidikan di daerah meliputi infrastruktur, literasi digital, dan bahan ajar.
  • Perguruan tinggi berperan strategis dalam mencetak guru profesional dan mendukung kebijakan pendidikan.

RRI.CO.ID, Ende - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh elemen dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu dan inklusif. Pendidikan tidak lagi menjadi tanggung jawab sekolah semata, melainkan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, pemerintah, dan perguruan tinggi.

Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Flores, Veronika Genua, menyampaikan bahwa konsep partisipasi semesta dalam pendidikan melampaui sekadar gotong royong, tetapi merupakan integrasi sistem yang melibatkan berbagai pihak.

“Pendidikan adalah gerakan bersama. Tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai bagian dari ekosistem pendidikan,” ujarnya dalam Dialog Asta Cita RRI, Sabtu, 2 Mei 2026.

Menurutnya, konsep ini sejalan dengan pemikiran tentang tripusat pendidikan, yakni keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter, sekolah sebagai pusat pengembangan akademik, dan masyarakat sebagai ruang aktualisasi pembelajaran.

Ia menambahkan, kolaborasi lintas sektor memiliki dampak signifikan dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Keterlibatan dunia usaha, komunitas, dan akademisi dapat memperluas akses sumber belajar, memperkaya kurikulum, serta memberikan pengalaman nyata bagi peserta didik.

Namun demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, terutama di daerah, seperti kesenjangan literasi digital, keterbatasan infrastruktur, hingga kurangnya bahan ajar berbasis konteks lokal.

“Keterbatasan akses teknologi dan infrastruktur masih menjadi hambatan dalam optimalisasi pembelajaran, terutama di wilayah terpencil,” katanya.

Selain itu, kesiapan sumber daya manusia (SDM) pendidikan juga dinilai belum merata. Guru dituntut untuk lebih adaptif, inovatif, dan mampu mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran.

Melalui program PPG, perguruan tinggi berperan dalam mencetak guru profesional yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menerapkan pembelajaran berbasis praktik dan teknologi di lapangan.

Veronika juga menekankan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis pemerintah daerah, terutama dalam penyusunan kebijakan berbasis riset, pengembangan kurikulum kontekstual, serta pemetaan mutu pendidikan.

Ia mengingatkan bahwa anggapan pendidikan sebagai tanggung jawab sekolah semata merupakan miskonsepsi yang perlu diluruskan. Pendidikan, kata dia, harus dibangun melalui sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.

“Sekolah hanya fasilitator. Fondasi pendidikan ada di keluarga, dan masyarakat menjadi ruang penerapan nilai-nilai yang dipelajari,” ucapnya.

Pada momentum Hardiknas ini, ia mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, baik di rumah maupun di ruang publik.

“Mari jadikan setiap sudut desa dan kota sebagai ruang belajar yang aman, inspiratif, dan penuh keteladanan,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....