Gotong Royong Jadi Kekuatan Literasi Masyarakat NTT
- 02 Mei 2026 10:24 WIB
- Ende
Poin Utama
- Hardiknas 2026 mendorong gerakan bersama untuk penguatan literasi di NTT.
- Literasi menjadi fondasi utama peningkatan kualitas sumber daya manusia.
- ren literasi NTT menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
- Tantangan utama adalah ketersediaan bahan bacaan bermutu sesuai kebutuhan.
- Gotong royong menjadi kekuatan utama dalam menjaga gerakan literasi.
RRI.CO.ID, Kupang - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 dimaknai sebagai momentum memperkuat gerakan bersama dalam membangun budaya literasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ketua Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) NTT, Polikarpus Do, menegaskan bahwa tema Hardiknas tahun ini menekankan pentingnya partisipasi seluruh elemen masyarakat dalam mewujudkan pendidikan bermutu.
“Pendidikan dan literasi adalah gerakan semesta. Semua pihak harus terlibat untuk mewujudkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya dalam wawancara bersama RRI, Sabtu, 2 Mei 2026.
Menurutnya, literasi merupakan fondasi utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, karena mampu mendorong kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif.
Polikarpus menjelaskan, perkembangan literasi di NTT menunjukkan tren positif yang merupakan hasil dari proses panjang berbagai program, mulai dari pemberantasan buta aksara hingga penguatan literasi di tingkat keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Ia menyebutkan, minat baca masyarakat NTT saat ini tergolong tinggi dan didukung oleh berkembangnya literasi budaya serta seni yang mampu menembus tingkat nasional.
“Ini adalah hasil kerja bersama dan investasi besar yang telah dilakukan selama bertahun-tahun,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan, terutama terkait keterbatasan bahan bacaan bermutu yang sesuai dengan kebutuhan dan jenjang usia pembaca.
Menurutnya, ketersediaan bahan bacaan yang tepat akan meningkatkan minat baca, sementara bahan yang tidak sesuai justru dapat menghambat perkembangan literasi.
Pemerintah, lanjutnya, telah melakukan berbagai upaya, termasuk distribusi buku bermutu ke ratusan taman baca masyarakat serta pelatihan pengelola literasi.
Selain itu, penguatan literasi juga dilakukan melalui pembangunan ekosistem literasi di sekolah, keluarga, dan masyarakat, termasuk penyediaan ruang baca dan akses informasi.
Polikarpus menekankan pentingnya menjaga semangat gotong royong yang menjadi kekuatan masyarakat NTT dalam menggerakkan literasi.
“Budaya kebersamaan dan gotong royong di NTT menjadi energi besar dalam menjaga keberlanjutan gerakan literasi,” ucapnya.
Ia berharap semangat tersebut terus dijaga agar tidak terjadi penurunan kualitas literasi di masa mendatang serta mampu mencetak generasi yang unggul dan berdaya saing.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....