Kades Tilang Kembangkan Hortikultura Berbasis Air Sungai

  • 21 Apr 2026 11:18 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Sikka – Kepala Desa Tilang, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Rofinus I.M. Luer, mengembangkan budidaya tanaman hortikultura dengan memanfaatkan potensi air Sungai Nangablo yang tidak pernah kering. Inisiatif ini menjadi jawaban atas kebutuhan ekonomi masyarakat sekaligus optimalisasi sumber daya alam desa.

Langkah tersebut mulai dirintis sejak tahun 2020, bertepatan dengan masa pandemi Covid-19 yang membatasi aktivitas warga. Di tengah situasi itu, Rofinus mengalihkan fungsi lahannya dari tanaman kakao dan kelapa menjadi kebun hortikultura produktif.

“Awalnya karena pandemi Covid-19, saya mulai menanam hortikultura dan melihat potensi air di desa yang sangat mendukung,” kata Rofinus saat ditemui di kebunnya di Dusun Ribang, Rabu 15 April 2026. Ia menilai kondisi air yang stabil menjadi faktor utama keberhasilan pengembangan pertanian tersebut.

Menurutnya, komoditas hortikultura memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding kakao karena dapat dipanen beberapa kali dalam setahun. Pola tanam yang fleksibel juga memungkinkan petani menyesuaikan produksi dengan kebutuhan pasar.

Untuk memperkuat kapasitasnya, Rofinus aktif belajar dari penyuluh pertanian serta mendapatkan pendampingan dari Yayasan Bina Tani Sejahtera. Dengan dukungan tersebut, ia mulai mengelola lahan seluas 3 hektare dengan nilai investasi mencapai ratusan juta rupiah.

Seiring waktu, pengelolaan lahan berkembang menjadi 7,5 hektare yang melibatkan kelompok tani binaannya. Sekitar 4 hektare dikelola bersama 50 tenaga kerja, sementara 3,5 hektare lainnya dipercayakan kepada petani muda desa.

Beragam komoditas dikembangkan dalam kebun tersebut, mulai dari cabai keriting, cabai besar, cabai rawit, hingga tomat dan mentimun. Selain itu, terdapat pula tanaman buncis, semangka, dan bunga kol yang menjadi andalan produksi.

Rofinus juga mendirikan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Tilang One Farm sebagai ruang pembinaan generasi muda. Melalui program ini, petani tidak hanya diajarkan teknik budidaya, tetapi juga manajemen usaha tani.

“Petani tidak hanya diajarkan menanam, tetapi juga mengelola biaya dan menentukan waktu tanam agar hasilnya terserap pasar dengan harga baik,” ujarnya. Pendekatan ini dinilai penting untuk meningkatkan daya saing produk pertanian lokal.

Ia mencontohkan, dari 7.000 tanaman tomat dengan produksi rata-rata 2 kilogram per pohon, dapat menghasilkan sekitar 14 ton. Dengan harga Rp5.000 per kilogram, omzet yang diperoleh mencapai Rp70 juta dalam satu musim panen.

“Setelah dikurangi biaya produksi sekitar Rp30 juta, keuntungan bersih bisa mencapai Rp30 sampai Rp40 juta dalam waktu 3 sampai 4 bulan,” katanya. Perhitungan tersebut menjadi bukti bahwa hortikultura mampu memberikan keuntungan signifikan dalam waktu relatif singkat.

Rofinus menegaskan, pengembangan hortikultura tidak hanya meningkatkan pendapatan pribadi, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat desa. Ia menyebut banyak warga kini mampu memenuhi kebutuhan ekonomi, termasuk pendidikan anak dan perbaikan rumah.

Ke depan, ia berharap sektor hortikultura dapat menjadi solusi ekonomi berkelanjutan bagi Desa Tilang. Selain itu, upaya ini diharapkan mampu menarik minat generasi muda untuk kembali menekuni dunia pertanian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....