Komunitas Pustaka Bambu Dorong Literasi di Flores Timur

  • 20 Apr 2026 11:30 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Tingkat literasi di Flores Timur masih rendah akibat minimnya kesadaran membaca dan akses terbatas.
  • Perpustakaan dengan koleksi besar belum diimbangi dengan jumlah pengunjung yang memadai.
  • Komunitas Pustaka Bambu mengembangkan pendekatan kreatif berbasis permainan dan aktivitas sosial.
  • Kolaborasi dengan relawan dan sekolah menjadi strategi penting dalam meningkatkan literasi.
  • Peningkatan budaya membaca membutuhkan gerakan bersama dan proses jangka panjang.

RRI.CO.ID, Flores Timur - Tingkat literasi masyarakat di wilayah timur Indonesia, khususnya Flores Timur, masih menghadapi berbagai tantangan serius. Ketua Komunitas Pustaka Bambu Flores Timur, Andri Atagoran, mengungkapkan bahwa rendahnya minat baca serta keterbatasan akses terhadap bahan bacaan menjadi persoalan utama yang perlu mendapat perhatian bersama.

Menurut Andri, meskipun sejumlah perpustakaan daerah telah memiliki fasilitas dan koleksi buku yang memadai, tingkat kunjungan masyarakat masih tergolong rendah.

“Koleksi buku bisa mencapai ratusan ribu, tetapi jumlah pengunjung harian masih sangat sedikit. Ini menunjukkan bahwa persoalan literasi tidak hanya soal ketersediaan buku, tetapi juga kesadaran membaca,” ujarnya, kepada RRI di Program Komunitas Bicara, Sabtu, 18 April 2026.

Ia menjelaskan tantangan literasi di wilayah tersebut tidak hanya bersifat infrastruktur, tetapi juga menyangkut aspek sosial dan budaya. Lingkungan yang belum mendukung kebiasaan membaca membuat masyarakat, terutama anak-anak, belum menjadikan membaca sebagai kebutuhan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Komunitas Pustaka Bambu mengembangkan berbagai pendekatan kreatif. Salah satunya dengan menjadikan taman baca sebagai ruang bermain yang menyenangkan bagi anak-anak. Kegiatan seperti mendongeng, permainan edukatif, hingga berkebun dijadikan media untuk menumbuhkan minat baca secara alami.

“Kami tidak memaksa anak-anak untuk membaca. Kami menciptakan suasana yang membuat mereka tertarik secara spontan. Dari situ, muncul dorongan dari dalam diri mereka sendiri,” kata Andri.

Selain itu, komunitas juga melibatkan relawan, termasuk dari luar negeri, yang turut berperan dalam memperkenalkan budaya membaca melalui aktivitas sehari-hari. Kehadiran relawan dinilai mampu menjadi contoh langsung bagi anak-anak dalam membangun kebiasaan membaca.

Kolaborasi dengan sekolah juga dilakukan, terutama dalam mengisi kekurangan tenaga pengajar, seperti pada mata pelajaran bahasa Inggris. Relawan turut membantu proses belajar mengajar, baik di sekolah maupun di komunitas.

Meski dampaknya belum signifikan, Andri menilai perubahan kecil yang mulai terlihat merupakan langkah awal yang penting. Ia menegaskan peningkatan literasi membutuhkan proses panjang serta kerja sama berbagai pihak, termasuk pemerintah, sekolah, dan masyarakat.

“Budaya membaca tidak bisa dibangun secara instan. Ini harus menjadi gerakan bersama yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ke depan, ia berharap pemerintah dapat lebih peka dalam mengidentifikasi persoalan literasi di daerah, sehingga kebijakan yang diambil dapat tepat sasaran. Ia juga mengajak generasi muda untuk mulai membangun kebiasaan membaca sebagai bagian dari pengembangan diri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....