Produksi Padi Ende Diproyeksi Naik, Panen Raya Mei

  • 11 Apr 2026 15:38 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Produksi padi di Kabupaten Ende untuk musim tanam (MT) Oktober 2025 hingga Maret 2026 diproyeksikan meningkat dan berpotensi mencapai panen raya. Meski demikian, sebagian lahan saat ini belum memasuki masa panen akibat keterlambatan waktu tanam.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende, Ibrahim Gadir Dean, menyampaikan hal tersebut kepada RRI pada Jumat siang 10 April 2026. Ia menjelaskan, total luas tanam padi pada musim tersebut mencapai 3.521,65 hektare. Dari luasan tersebut, produksi padi diperkirakan mulai dipanen pada Mei 2026.

Estimasi hasil panen berada di kisaran 4,5 ton per hektare. Menurut Gadir, proyeksi peningkatan produksi didukung oleh curah hujan yang cukup stabil selama musim tanam.

Selain itu, tidak ditemukan kendala signifikan yang berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman padi.

Ia mengakui sempat terjadi serangan hama tikus pada awal musim tanam. Namun, serangan tersebut hanya terjadi di area persemaian, bukan pada lahan tanam utama.

“Serangan hama tikus memang terjadi, tetapi hanya berdampak pada persemaian sehingga menyebabkan gagal tanam, bukan gagal panen,” ujarnya. Kondisi tersebut dinilai masih bisa diatasi dengan penanganan cepat di lapangan.

Dinas Pertanian kemudian turun langsung membantu petani dengan membagikan racun tikus. Selain itu, petani juga diarahkan untuk segera melakukan penanaman ulang.

Langkah tersebut berdampak pada pergeseran masa tanam yang berujung pada mundurnya jadwal panen. Akibatnya, puncak panen diperkirakan terjadi pada Mei 2026.

“Puncak panen kemungkinan terjadi pada Mei dan berpeluang menjadi panen raya karena luas tanam cukup besar,” ujar Gadir. Ia optimistis produksi tahun ini mampu memenuhi kebutuhan lokal.

Dinas Pertanian memastikan tidak ada indikasi gagal panen pada musim ini. Kondisi tanaman dan lahan dinilai tetap dalam keadaan baik hingga menjelang masa panen.

Sementara itu, sejak tahun lalu Perum Bulog Ende mulai menyerap padi dari petani lokal, khususnya di wilayah utara. Harga pembelian mencapai Rp12.000 per kilogram dengan total serapan telah melebihi 6 ton.

Dinas Pertanian juga mengimbau petani untuk terus menjaga kondisi lahan sebelum memasuki musim tanam berikutnya. Upaya tersebut dinilai penting untuk mempertahankan produktivitas dan mencegah gangguan serupa terulang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....