Ritual Adat Awali Pembangunan Proyek KDKMP di Manggarai Timur

  • 30 Mar 2026 14:45 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Timur - Pembangunan di wilayah pedesaan terus berjalan seiring dengan pelestarian nilai-nilai adat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Hal ini terlihat dalam prosesi adat penggusuran lahan desa untuk pembangunan proyek KDKMP yang berlangsung di Desa Bangka Masa, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur, Senin, 30 Maret 2026.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai unsur, termasuk anggota Koramil 1612-03/Borong Sertu Marsel Sarong, pemerintah desa, tokoh adat, serta pihak kontraktor. Kehadiran berbagai pihak ini menjadi simbol sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan pelaksana proyek dalam mendukung kelancaran pembangunan yang tetap menghargai kearifan lokal.

Prosesi adat berlangsung dengan penuh khidmat dan dipimpin langsung oleh para Tua Gendang dari sejumlah kampung adat, yakni Gendang Rama Ledalecu Tiwu, Gendang Lebat Waso Wae Nara, serta Gendang Lebat Waso Wae Weta. Ritual tersebut dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus memohon restu agar proses pembangunan dapat berjalan lancar tanpa hambatan.

Kepala Desa Bangka Masa bersama perangkat desa turut menyaksikan jalannya prosesi tersebut. Dari pihak pelaksana proyek, kontraktor Nedi Hartono juga mengikuti seluruh rangkaian kegiatan adat sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi masyarakat setempat sebelum dimulainya pekerjaan pembangunan.

Babinsa Koramil 1612-03/Borong, Sertu Marsel Sarong, menegaskan bahwa kehadiran aparat teritorial dalam kegiatan seperti ini merupakan bagian dari pembinaan wilayah sekaligus upaya menjaga keharmonisan di tengah masyarakat. Menurutnya, pembangunan yang dilaksanakan dengan tetap menghargai budaya lokal akan memperkuat kebersamaan serta menciptakan suasana yang aman, harmonis, dan penuh dukungan dari masyarakat.

“Kami sebagai Babinsa tentu selalu hadir mendampingi masyarakat dalam setiap kegiatan di wilayah, termasuk kegiatan adat seperti ini. Prosesi adat penggusuran lahan menjadi bentuk penghormatan terhadap budaya lokal sekaligus mempererat kebersamaan antara masyarakat, pemerintah desa, dan pihak pelaksana pembangunan,” ujar Sertu Marsel Sarong.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....