Toleransi Bukan Sekadar Agama tapi Tentang Rasa Menghargai
- 13 Mar 2026 13:09 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende - Implementasi nilai Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dalam kehidupan nyata di Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan tren positif melalui peningkatan sikap saling menghargai antar sesama. Fenomena toleransi di kalangan anak muda NTT kini tidak lagi hanya terpaku pada perbedaan agama, melainkan meluas pada penghormatan terhadap keberagaman budaya.
Hal tersebut diulas dalam Obrolan SPADA bersama Petrick Yohanis Meok (Duta Rupiah Flobamorata 2024) RRI Pro2 Ende, Senin, 2 Maret 2026, bertopik: "Yuk, Kenalan dengan Rupiah". Petrick menekankan bahwa hakikat toleransi yang dipelajari dalam PPKn sangat aplikatif dan menjadi pondasi utama dalam interaksi sosial masyarakat sehari-hari.
Secara general, kerukunan di wilayah Flobamorata dinilai tetap terjaga dengan baik karena adanya kesadaran kolektif untuk menjaga rasa persaudaraan di tengah perbedaan. Sikap saling menghormati ini menjadi modal sosial yang kuat bagi generasi muda untuk membangun daerah tanpa sekat-sekat primodialisme yang sempit.
Toleransi dalam perspektif kekinian juga mencakup bagaimana individu mampu memberikan ruang bagi orang lain untuk mengekspresikan identitas budaya tanpa rasa takut akan diskriminasi. Petrick melihat bahwa keterbukaan pikiran anak muda NTT menjadi faktor kunci mengapa indeks keharmonisan di wilayah ini tetap berada pada level yang stabil.
Kajian PPKn yang luas, mencakup psikologi massa hingga sosiologi, membantu para pendidik dan anak muda untuk memahami akar dari setiap perbedaan pendapat. Dengan memahami latar belakang orang lain, gesekan sosial yang dipicu oleh kesalahpahaman dapat diminimalisir melalui dialog yang santun dan penuh rasa hormat.
Penerapan nilai toleransi ini juga berkolerasi dengan cara masyarakat memperlakukan simbol-simbol kedaulatan negara, termasuk dalam hal penggunaan mata uang rupiah secara bijak. Kesadaran untuk menjaga keutuhan bangsa dimulai dari hal-hal kecil, seperti menghargai perbedaan pandangan dalam diskusi-diskusi publik di media sosial.
Tantangan ke depan adalah konsistensi dalam menjaga api toleransi agar tidak padam oleh provokasi yang seringkali muncul dari ruang-ruang digital yang kurang sehat. Anak muda diharapkan tetap menjadi motor penggerak perdamaian dengan terus menginternalisasi nilai-nilai Pancasila sebagai gaya hidup, bukan sekadar teori di bangku sekolah.
Melalui semangat saling menjaga, NTT diharapkan tetap menjadi laboratorium toleransi terbaik di Indonesia yang menginspirasi wilayah lain dalam merawat keberagaman. Mari terus pupuk rasa kasih sayang antar sesama warga negara demi terciptanya kehidupan bermasyarakat yang damai, tenteram, dan penuh dengan kebahagiaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....