Gerakan Tanam Padi Serentak, Perkuat Langkah menuju Swasembada Pangan
- 16 Feb 2026 19:58 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende - Gerakan Tanam Padi Serentak se-Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) digelar di Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Senin, 16 Februari 2026, sebagai wujud komitmen memperkuat ketahanan pangan dan swasembada berkelanjutan. Kegiatan ini dihadiri oleh Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Wakil Gubernur Johni Asadoma, Ketua DPRD NTT Emi Nomleni, Bupati Kupang Yosef Lede.
Hadir pula jajaran Kementerian Pertanian RI, TNI/Polri, penyuluh pertanian, kelompok tani, serta Rektor Universitas Nusa Cendana Prof. Dr. Ir. Jefri Semuel Bale, ST., M.Eng bersama mahasiswa. Dalam sambutannya, Gubernur Melki menegaskan bahwa sektor pertanian merupakan fondasi utama perekonomian masyarakat sekaligus penopang kedaulatan negara. Menurutnya, gerakan tanam serentak menjadi momentum membangkitkan semangat petani untuk meningkatkan produksi pangan.
“Di bawah langit Desa Manusak hari ini kita menanam padi secara serentak untuk mendukung swasembada berkelanjutan di Provinsi NTT dan Republik Indonesia. Petani adalah pahlawan pangan yang memastikan kita semua dapat menikmati hasil di meja makan,” ujarnya.
Gubernur juga memaparkan capaian produksi gabah kering giling (GKG) NTT tahun 2025 yang hampir menyentuh 1 juta ton, tepatnya 968.324 ton atau meningkat 36,81 persen dibanding tahun sebelumnya. Produksi beras pun naik menjadi 567.178 ton, meningkat 35,38 persen dari tahun 2024.
Peningkatan tersebut berdampak positif pada penyerapan beras oleh Perum Bulog di NTT sebesar 6.056 ton. Ia turut mengapresiasi dukungan Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman dalam penyediaan alsintan, traktor, pompa air, bibit dan pupuk, sebagai bagian dari implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Sementara itu, Wakil Gubernur Johni Asadoma mendorong diversifikasi komoditas pertanian, terutama di wilayah kering seperti Kabupaten Sabu Raijua. Ia menekankan pentingnya pengembangan sorgum dan jagung sebagai substitusi beras karena lebih adaptif terhadap lahan kering. “Kita tidak harus terpaku pada beras. Sorgum dan jagung memiliki potensi besar dan harus dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan pangan lokal,” katanya.
Di tingkat kabupaten, Bupati Kupang Yosef Lede menargetkan produksi padi 2026 mencapai 100.000 ton, meningkat dari 87.000 ton pada tahun sebelumnya. Strategi yang disiapkan meliputi mekanisasi pertanian melalui sistem brigade alsintan, program cetak sawah rakyat, optimalisasi lahan tadah hujan, hingga rencana pembentukan BUMD Agrobisnis guna menjaga stabilitas harga panen.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT Joaz Bily Oemboe Wanda melaporkan target luas tanam padi 2026 sebesar 273.800 hektare dengan proyeksi produksi 1.186.456 ton GKG dan 694.944 ton beras, guna memenuhi kebutuhan rata-rata beras NTT sekitar 650.000 ton per tahun. NTT juga meraih Pin Penghargaan Swasembada Pangan Nasional awal 2026 bersama Jawa Timur, Jawa Barat, Banten dan Papua Selatan.
"Kami juga memberi apresiasi kepada 3 (tiga) Kabupaten dengan produksi padi tertinggi di NTT yaitu Manggarai Barat, Kupang dan Sumba Timur,” ujar Joaz.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....