Inflasi Pangan Tekan Daya Beli dan Garis Kemiskinan

  • 12 Feb 2026 06:19 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Inflasi pangan di Nusa Tenggara Timur menekan daya beli rumah tangga miskin sekaligus mendorong kenaikan garis kemiskinan daerah.Kenaikan harga beras dan cabai rawit menjadi faktor utama yang memengaruhi kemampuan belanja masyarakat berpendapatan rendah.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT mencatat inflasi Januari 2026 sebesar 0,65 persen dengan inflasi tahunan mencapai 3,7 persen. Komoditas pangan segar, seperti cabai rawit, tomat, dan bawang merah, menjadi penyumbang terbesar inflasi pada periode tersebut.

Statistisi Ahli Madya BPS NTT, Demarce M. Sabuna, mengatakan kelompok masyarakat miskin paling merasakan dampak kenaikan harga pangan. “Struktur pengeluaran rumah tangga miskin didominasi oleh pangan, sehingga kenaikan harga sedikit saja berdampak besar,” katanya saat diwawancarai RRI dalam siaran Inflasi dan Investasi, Rabu, 11 Februari 2026.

Ia menjelaskan inflasi secara otomatis meningkatkan garis kemiskinan karena nilai kebutuhan minimum ikut naik. “Ketika harga naik, nilai kebutuhan minimum bertambah, sehingga garis kemiskinan meningkat dan rumah tangga di sekitar garis kemiskinan sangat rentan jatuh miskin,” ujarnya.

Data BPS menunjukkan persentase penduduk miskin di NTT turun menjadi 17,11 persen, namun risiko kerentanan tetap tinggi bagi rumah tangga di sekitar garis kemiskinan.

Demarce menambahkan data inflasi dan kemiskinan menjadi dasar perumusan kebijakan perlindungan daya beli masyarakat. “BPS menyediakan data faktual, sementara intervensi kebijakan berada di tangan pemerintah dan lembaga terkait,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....