Pelukan Lintas Iman di Tanah Reinha Rosari

  • 11 Feb 2026 15:08 WIB
  •  Ende

RRI. CO. ID, Ende - Langit sore menggantung teduh di atas Larantuka. Cahaya matahari turun perlahan, menyapu atap-atap rumah tua dan menimang lembut halaman Masjid Agung Shuhada. Di kota kecil yang akrab disebut Reinha Rosari itu, langkah-langkah manusia berderap pelan, seirama dengan satu perasaan yang sama: sukacita.

Hari itu, Selasa, 3 Februari 2026, bukan hanya seorang uskup yang datang. Yang tiba adalah harapan. Yang disambut adalah persaudaraan.

Mgr Yohanes Hans Monteiro, Uskup Larantuka terpilih, memasuki kota dengan iringan lagu dan tarian adat. Namun yang membuat suasana berbeda, warga yang menunggu di tepi jalan bukan hanya umat Katolik. 

Di antara kerumunan, tampak ibu-ibu berhijab, anak-anak kampung, para tokoh masyarakat, berdiri berdampingan tanpa jarak. Mereka tersenyum dengan cara yang sama.

Dari Wulanggitang hingga jantung Kota Tua Larantuka, tangan-tangan terulur menyambut. Doa-doa dipanjatkan dalam bahasa masing-masing, tetapi bermuara pada niat yang serupa: selamat datang, gembala.

Ketika rombongan tiba di Kampung Baru, Kelurahan Ekasapta, wilayah yang mayoritas Muslim, suasana justru terasa paling hangat. Ibu-ibu mengenakan sarung tenun Lamaholot melangkah pelan dalam tarian Soka Seleng. 

Selempang warna-warni berkibar ditiup angin laut. Lagu daerah mengalun lirih, seperti nyanyian rumah bagi siapa saja.

Tak ada canggung. Tak ada curiga. Hanya wajah-wajah yang terbuka.

Di pelataran Masjid Agung Shuhada, Mgr Yohanes diterima enam ketua suku Kampung Baru bersama Ketua Takmir masjid. Lalu, sebuah selendang tenun dikalungkan ke bahunya. 

Gerakan itu sederhana, nyaris sunyi, tetapi menyimpan makna yang dalam. Sehelai kain menjadi jembatan.

Bahwa adat lebih tua dari perbedaan. Bahwa kemanusiaan selalu lebih luas dari sekat keyakinan.

Tepuk tangan pecah. Anak-anak tertawa. Orang-orang saling bersalaman. Sore itu, Larantuka seperti sedang mengingatkan dunia bahwa toleransi tidak selalu lahir dari pidato panjang atau spanduk besar. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil: menyapa, menerima, memeluk.

Di tanah Lamaholot, kerukunan bukan sekadar slogan. Ia adalah napas kehidupan sehari-hari.

Seperti Semana Santa yang sakral bagi umat Katolik, seperti azan yang menggema dari menara masjid, keduanya berdiri berdampingan, tanpa saling menenggelamkan. Nada yang berbeda, tetapi harmoni yang sama.

Kedatangan Uskup baru itu pun akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda gereja. Ia menjelma menjadi peristiwa kemanusiaan. Sebuah pengingat bahwa di kota kecil ini, iman boleh beragam, tetapi hati tetap satu kampung.

Di bawah langit senja Reinha Rosari, tarian, doa, dan senyum lintas iman menyatu seperti cahaya yang jatuh perlahan. Hangat, damai dan sangat Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....