Lawan Stigma, Bahasa Isyarat Dorong Inklusi Disabilitas
- 25 Jan 2026 15:48 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende - Stigma dan salah kaprah terhadap penyandang disabilitas, khususnya komunitas Tuli, masih menjadi tantangan di Nusa Tenggara Timur. Hal ini disampaikan Juru Bahasa Isyarat Komunitas Tuli Kupang, Ritasari Boling, dalam program Ruang Disabilitas dan Inklusi RRI, Sabtu, 24 Januari 2026.
Ritasari menegaskan, penyandang disabilitas tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan kesempatan dan akses yang setara. Menurutnya, teman-teman Tuli memiliki kemampuan, keterampilan, dan kemandirian yang kerap terhambat karena kurangnya akses di ruang publik.
Ia mencontohkan, banyak penyandang Tuli di Kota Kupang yang bekerja mandiri sebagai pemilik bengkel, salon, hingga pengajar di sekolah luar biasa. Namun, keterbatasan akses bahasa isyarat di layanan publik membuat potensi mereka kerap tidak terlihat.
Dalam kehidupan sehari-hari, Ritasari mengajak masyarakat untuk memahami cara berinteraksi yang tepat dengan teman Tuli. Berbicara dengan tenang, menggunakan gestur, tulisan, serta memperlakukan mereka secara setara dinilai mampu membangun rasa aman dan percaya diri.
Peran media, termasuk radio, juga dinilai strategis dalam meningkatkan literasi inklusi dan pengenalan bahasa isyarat. Menurut Ritasari, media mampu menjangkau masyarakat luas dan membuka ruang dialog tentang hak-hak penyandang disabilitas.
Ke depan, ia berharap pemerintah daerah lebih memprioritaskan penyediaan juru bahasa isyarat dan akses informasi yang inklusif. Ritasari mengajak seluruh masyarakat NTT untuk mendukung inklusi dengan belajar bahasa isyarat dan menyuarakan kesetaraan bagi penyandang disabilitas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....