Bondowoso Perkuat Pertanian Organik dan Adopsi Teknologi PM-AAS
- 20 Jul 2026 14:06 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Bondowoso – Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus memperkuat sektor pertanian sebagai salah satu pilar ketahanan pangan sekaligus penggerak ekonomi lokal. Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan pertanian organik yang dipadukan dengan penerapan teknologi Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS).
Penguatan sektor pertanian tersebut ditandai dengan pengiriman satu truk beras organik dari Unit Produksi Beras Organik Gapoktan Al Barokah, Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, ke Kalimantan, Senin, 20 Juli 2026.
Pada kesempatan yang sama, dilakukan penandatanganan kesepakatan bersama antara Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid dan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik.
Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid mengatakan, Kabupaten Bondowoso memiliki potensi besar di sektor pertanian dengan luas lahan pertanian mencapai 35.093 hektare. Sementara luas lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) disebut mencapai 45.000 hektare.
"Kondisi geografis yang berada di dataran tinggi dengan iklim yang mendukung menjadikan Bondowoso sebagai salah satu lumbung pangan di Jawa Timur," kata Abdul Hamid Wahid.
Ia menyebutkan, produksi padi di Kabupaten Bondowoso pada 2025 mencapai 600.000 ton. Capaian tersebut turut memperkuat kontribusi Bondowoso dalam mendukung program swasembada pangan nasional.
Menurutnya, capaian produksi tersebut tidak terlepas dari kerja keras para petani, pendamping lapangan, serta dukungan Pemerintah Daerah yang terus mendorong peningkatan produktivitas pertanian.
Di sisi lain, kata Abdul Hamid, sektor pertanian di Bondowoso juga terus dikembangkan dengan pendekatan ramah lingkungan. Saat ini, pengembangan pertanian organik telah mencapai 230 hektare yang tersebar di tiga desa, yakni Desa Sulek, Desa Lombok Kulon, dan Desa Gading Sari.
Program tersebut difokuskan pada pengembangan beras organik sebagai salah satu produk unggulan daerah yang sehat, berkualitas tinggi, sekaligus memiliki nilai tambah ekonomi.
"Melalui pendampingan intensif, petani organik berhasil meningkatkan kualitas produksi sekaligus menjaga kelestarian lahan pertanian untuk generasi mendatang," ujarnya.
Selain beras organik, Bondowoso juga memiliki produk unggulan berupa beras Sintanur Lembah Raung. Produk tersebut telah memperoleh pengakuan Hak Kekayaan Intelektual (Haki) resmi berupa indikasi geografis dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual pada 2025 melalui Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kabupaten Bondowoso.
Abdul Hamid mengatakan, pengakuan tersebut menjadi bukti atas keunikan aroma, rasa, dan kualitas beras yang dihasilkan dari tanah vulkanik di kawasan Lembah Raung. Status tersebut sekaligus dinilai membuka peluang pemasaran yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam pengembangan produktivitas padi, sistem tanam benih langsung (Tabela) juga telah lama diterapkan oleh petani Bondowoso. Metode tersebut dinilai mampu meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya produksi, sekaligus mempercepat waktu tanam.
"Petani Bondowoso menunjukkan kesiapan dan antusiasme tinggi dalam mengadopsi inovasi pertanian," katanya.
Melalui penerapan PM-AAS, para petani yang didampingi penyuluh pertanian lapangan di setiap wilayah dinilai siap mengadopsi metode tersebut secara masif. Penerapan teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas padi sekaligus mendorong peningkatan pendapatan petani.
Penerapan PM-AAS yang dikombinasikan dengan pengalaman petani dalam menggunakan metode Tabela diharapkan menjadi terobosan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso, lanjut Abdul Hamid, akan terus melakukan sosialisasi dan pelatihan agar petani dapat menguasai teknologi dan teknik budidaya tersebut dengan baik.
"Keberhasilan program ini akan menjadi model kuat bagi Bondowoso untuk terus berkontribusi dalam ketahanan pangan nasional," ujarnya.
Ia juga meminta dukungan pemerintah pusat untuk penyediaan sarana dan prasarana pendukung pertanian, di antaranya pembangunan rumah produksi pengolahan hasil pertanian serta penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan) pascapanen yang memadai.
Menurutnya, sarana tersebut dibutuhkan untuk meningkatkan efisiensi pengolahan, menekan tingkat kehilangan hasil panen, serta meningkatkan nilai tambah produk pertanian Bondowoso.
"Dengan dukungan tersebut, kami yakin Bondowoso dapat semakin maju dan menjadi contoh daerah yang sukses dalam mengintegrasikan tradisi pertanian dengan teknologi modern," katanya.
Pemkab Bondowoso menyatakan siap bekerja sama dan melaksanakan setiap arahan serta program Kementerian Pertanian untuk mewujudkan sektor pertanian yang produktif, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....