Limbah Ternak Bernilai Ekonomi Dukung Pertanian Berkelanjutan Banyumas
- 17 Jul 2026 09:51 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Limbah peternakan di Kabupaten Banyumas masih didominasi pengelolaan secara konvensional, yakni kotoran ternak langsung diaplikasikan ke lahan pertanian tanpa melalui proses pengolahan. Padahal, jika dikelola dengan baik, limbah tersebut tidak hanya dapat mengurangi dampak pencemaran lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi sebagai pupuk organik.
Hal tersebut disampaikan Pengawas Bibit Ternak Terampil Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Banyumas, Belgis Nuriski Kurniasi, A.Md,. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar peternak di Banyumas masih menggunakan cara sederhana dalam memanfaatkan limbah ternak.
"Untuk saat ini kebanyakan peternak di Kabupaten Banyumas masih memberikan kotoran ternak langsung ke tanaman tanpa diolah terlebih dahulu," ujarnya.
Belgis mengatakan, hingga saat ini dinas belum memiliki program khusus mengenai pengelolaan limbah ternak menjadi pupuk. Namun demikian, pihaknya tetap membuka pendampingan bagi kelompok peternak yang ingin mengembangkan pengolahan limbah.
"Jika ada peternak yang ingin mengelola limbah ternak menjadi pupuk, mereka bisa mengajukan surat ke dinas. Nantinya kami dapat memberikan bimbingan teknis terkait pengelolaan limbah tersebut," katanya.
Meski belum menjadi program khusus, sejumlah kelompok peternak di Banyumas telah berhasil mengembangkan pupuk organik dari limbah ternak. Salah satunya adalah Kelompok Mukti Mandiri di Kecamatan Sumbang yang telah memproduksi pupuk organik dan memasarkannya kepada masyarakat.
"Kelompok Mukti Mandiri sudah mengolah limbah menjadi pupuk organik dan menjualnya sekitar Rp1.000 per kilogram," kata Belgis.
Menurutnya, pemanfaatan limbah ternak menjadi pupuk organik memberikan manfaat ganda. Selain mengurangi pencemaran lingkungan akibat emisi gas rumah kaca dari kotoran ternak, penggunaan pupuk organik juga mendukung pertanian ramah lingkungan dan menghasilkan produk pertanian yang lebih sehat.
"Kotoran ternak memiliki potensi menghasilkan gas rumah kaca yang cukup tinggi sehingga lebih baik diolah menjadi pupuk. Untuk ketahanan pangan juga akan lebih baik karena sayuran organik memiliki kualitas yang lebih baik," ucapnya.
Namun, pengembangan pengolahan limbah ternak masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah keterbatasan sumber daya manusia, karena sebagian besar peternak merupakan kelompok usia lanjut yang belum terbiasa memanfaatkan teknologi pengolahan limbah.
Belgis menilai kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kendala tersebut. Ia mencontohkan kerja sama yang dilakukan Kelompok Mukti Mandiri dengan perguruan tinggi dalam mengembangkan teknologi pengolahan pupuk organik sehingga produk yang dihasilkan memiliki nilai jual.
"Harapannya kelompok-kelompok peternak lain dapat meniru keberhasilan Mukti Mandiri sehingga limbah ternak tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga mampu meningkatkan pendapatan peternak," katanya.
Di akhir wawancara, Belgis mengimbau para peternak agar semakin sadar terhadap dampak limbah ternak terhadap lingkungan dan masyarakat. Ia berharap limbah peternakan dapat dimanfaatkan secara optimal melalui kolaborasi antara sektor peternakan dan pertanian sehingga menjadi bagian dari pembangunan pertanian berkelanjutan di Kabupaten Banyumas.
"Peternak harus sadar bahwa limbah ternak dapat menimbulkan gangguan bagi lingkungan jika tidak dikelola. Karena itu, limbah perlu dimanfaatkan dan diolah bersama sektor pertanian agar memberikan manfaat sekaligus memiliki nilai ekonomis," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....