Olahan Kamboja Jadi Parfum, PLTU Adipala Dorong Peluang Usaha Baru Bagi KWT
- 11 Jun 2026 04:55 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Cilacap : Bunga kamboja yang selama ini hanya berjatuhan dan kerap dipandang sebelah mata oleh warga Desa Adipala, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, kini menjelma menjadi peluang ekonomi baru. Melalui program pemberdayaan masyarakat, PT PLN Indonesia Power UBP Jawa Tengah 2 Adipala melatih Kelompok Wanita Tani (KWT) mengolah bunga kamboja menjadi parfum bernilai jual.
Pelatihan yang digelar di aula Desa Adipala, Rabu (10/6/2026), diikuti sebanyak 30 peserta dari dua KWT setempat. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) PLN Indonesia Power UBP Adipala yang berkolaborasi dengan Tim Srikandi PLN Indonesia Power. Para peserta dibekali keterampilan mulai dari proses pemilihan bahan baku hingga teknik dasar pembuatan parfum organik berbahan bunga kamboja segar yang selama ini melimpah di lingkungan sekitar.
Perwakilan Srikandi PLN Indonesia Power UBP Adipala, Andiani Kuswardhany, mengatakan pemanfaatan bunga kamboja dipilih karena potensinya yang besar namun belum tergarap optimal oleh masyarakat.
“Kamboja merupakan tanaman yang banyak tersedia di Adipala. Melalui pelatihan ini, kami ingin menghadirkan nilai tambah sehingga bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi dan membuka peluang usaha baru bagi warga,” ujar Andiani.
Ia menegaskan, kehadiran PLN Indonesia Power tidak hanya sebatas operasional pembangkitan, tetapi juga berkomitmen mendampingi masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal.
“Kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan, nantinya PLTU Adipala akan mengembangkan menjadi usaha berkelanjutan yang mampu meningkatkan pendapatan keluarga,” katanya.
Ke depan, pihaknya juga akan melakukan pendampingan lanjutan, mulai dari penguatan kualitas produk hingga strategi pemasaran, agar parfum kamboja dapat menjadi produk unggulan khas Desa Adipala.
Kepala Desa Adipala, Subur, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai pelatihan ini menjadi langkah inovatif dalam mengangkat potensi lokal yang selama ini belum bernilai maksimal.
“Selama ini bunga kamboja hanya dijual dalam bentuk kering dengan harga sekitar Rp6.000 hingga Rp9.000 per kilogram. Dengan diolah menjadi parfum, tentu nilai ekonominya bisa meningkat jauh,” ujarnya.
Menurutnya, keberlimpahan pohon kamboja di lingkungan desa, baik di pekarangan maupun area pemakaman, menjadi modal kuat untuk mendukung keberlanjutan usaha tersebut.
Antusiasme peserta juga terlihat selama pelatihan. Salah satunya Supriani, anggota KWT Sekar Kamboja, yang mengaku mendapatkan wawasan baru yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang usaha.
“Kami sangat senang mendapat pelatihan ini. Semoga ke depan bisa menjadi tambahan penghasilan bagi keluarga,” katanya.
Dalam praktik pelatihan, peserta diajarkan mengolah bunga kamboja yang dipanen pada pagi hari menggunakan etanol, kemudian difermentasi hingga menghasilkan aroma khas yang siap diformulasikan menjadi parfum.
Melalui program ini, PLN Indonesia Power UBP Adipala menegaskan perannya sebagai mitra pembangunan masyarakat, tidak hanya menyediakan energi, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....