Harga Pakan Naik dan Telur Anjlok Bebani Peternak Indramayu

  • 14 Jul 2026 22:14 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Indramayu - Para peternak ayam petelur di sejumlah desa di Kabupaten Indramayu mengeluhkan anjloknya harga telur ayam negeri di pasaran. Saat ini harga komoditas tersebut di lokasi kandang terpantau hanya berkisar Rp23.000 per kilogram.

Kondisi harga tersebut sebenarnya sedikit membaik jika dibandingkan dengan sepekan sebelumnya. Pada pekan lalu, harga komoditas hewani ini sempat merosot tajam hingga menyentuh angka Rp19.000 per kilogram.

Keluhan tersebut salah satunya diungkapkan oleh Encang Carnita, seorang pengusaha ternak ayam petelur asal Desa Sindang. Pria berusia 55 tahun itu membagikan keluh kesahnya mengenai kondisi pasar pada Selasa, 14 Juli 2026.

Menurut Encang, menurunnya harga jual telur saat ini justru berbanding terbalik dengan harga pakan yang terus melonjak. Fenomena pelik tersebut pada akhirnya menyebabkan penurunan pendapatan yang cukup signifikan bagi para peternak lokal.

"Harga telur ayam terus turun sedangkan harga pakan terus naik dari harga Rp330.000 per sak merangkak naik hingga saat ini menjadi Rp360.000 per sak isi 50 Kg atau sekitar Rp7.200 per kilogram," ujar Encang. Kondisi kenaikan harga pakan yang tidak terkendali ini dinilai sangat memberatkan operasional peternakan.

Ia juga menambahkan bahwa situasi saat ini sangat mengkhawatirkan karena peternak dibayangi risiko kerugian yang besar. "Untuk memenuhi kebutuhan pakan saja, karena peternak ayam petelur juga berhadapan dengan kondisi cuaca dan tingkat stres sehingga berpengaruh pada produksi," kata dia menandaskan.

Banyak pihak mengaitkan penurunan serapan pasar ini dengan liburnya aktivitas dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) karena masa libur sekolah. Berhentinya operasional sementara dapur tersebut disinyalir membuat permintaan pasokan telur ayam menjadi berkurang drastis.

"Katanya sih harga telur ayam turun karena libur dapur MBG bersamaan dengan libur sekolah sehingga serapan pasar berkurang sehingga berpengaruh pada permintaan pasar," jelas Encang. Namun, dirinya optimis setelah dapur MBG kembali aktif diharapkan harga telur dapat kembali normal.

Sebagai peternak, Encang sangat berharap pemerintah mampu menjamin keberlangsungan usaha ternak dengan mengendalikan harga pasar. Pemerintah juga diharapkan bisa menekan harga pakan atau menyediakan pakan alternatif yang jauh lebih murah dengan kualitas standar.

Di sisi lain, momentum turunnya harga komoditas ini justru dimanfaatkan oleh sejumlah ibu rumah tangga untuk memborong komoditas tersebut. Salah seorang warga bernama Taryati mengaku sengaja membeli telur dalam jumlah banyak untuk dijadikan stok bahan pangan.

"Saya membeli sedikitnya 3 Kg telur untuk disetok di rumah selain memang telur selalu dibutuhkan dalam berbagai menu makanan hingga kue, tidak ada salahnya dong kita simpan," ucapnya menutup. Pembelian massal oleh ibu rumah tangga ini setidaknya membantu perputaran stok telur di tingkat pedagang.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....