Separuh Kapal Ketapang Menganggur Akibat Minim Dermaga

  • 12 Jul 2026 02:51 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi – Sebanyak 28 dari total 56 kapal yang tersedia di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk belum dapat beroperasi setiap hari akibat keterbatasan jumlah dermaga. Kondisi tersebut dinilai menjadi penyebab utama kemacetan arus logistik menuju Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ketua Umum DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap), Khoiri Soetomo, mengatakan armada kapal sebenarnya telah mencukupi untuk melayani kebutuhan penyeberangan. Namun, minimnya fasilitas sandar membuat hanya sekitar separuh kapal yang dapat beroperasi, sementara sisanya harus menunggu giliran.

"Ini adalah extraordinary problem. Volume logistik terus bertambah pesat, di sisi lain pengusaha sudah menyiapkan armada yang sangat melimpah. Namun ironisnya, kapal-kapal tersebut tidak bisa beroperasi optimal dan justru dipaksa menganggur karena pintu dermaganya sangat minim," kata Khoiri Soetomo usai rapat koordinasi penanganan kemacetan di Kantor ASDP Ketapang, Sabtu 11 Juli 2026.

Khoiri menjelaskan keterbatasan dermaga telah menciptakan bottleneck dalam pelayanan penyeberangan. Akibatnya, antrean tidak hanya dialami truk logistik dan kendaraan penumpang, tetapi juga kapal yang harus menunggu giliran untuk bersandar dan melayani penyeberangan.

Menurut Khoiri, kondisi tersebut menunjukkan perlunya penambahan kapasitas infrastruktur pelabuhan. Gapasdap memperkirakan lintasan Ketapang-Gilimanuk membutuhkan hingga 14 pasang dermaga agar seluruh armada yang tersedia dapat beroperasi secara optimal dan distribusi logistik berjalan lebih lancar.

"Sebagus apa pun kapal yang kami siapkan, kalau fasilitas kolam pelabuhan dan dermaganya tidak memadai, maka distribusi logistik akan selalu lumpuh dan terganggu saat cuaca buruk. Ini yang harus segera dicarikan solusi konkretnya," ujar Khoiri.

Selain penambahan dermaga, Gapasdap juga mengusulkan pemerintah menyusun master plan pengembangan Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk secara bertahap. Pembangunan infrastruktur pelabuhan dinilai perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas kolam pelabuhan dan pelindung ombak mengingat karakteristik arus Selat Bali yang cukup ekstrem.

Gapasdap berharap peningkatan infrastruktur tersebut dapat mengurangi antrean kendaraan pada periode libur panjang maupun hari besar keagamaan. Dengan kapasitas pelabuhan yang memadai, seluruh armada kapal dapat beroperasi maksimal sehingga pelayanan penyeberangan, distribusi logistik, dan mobilitas masyarakat menjadi lebih lancar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....