Porterius Keli: Pire Te’u Ajarkan Masyarakat Hormati Alam
- 06 Jul 2026 14:03 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Mosalaki Riabewa Kecamatan Ndona, Porterius Faustinus Keli, menegaskan bahwa tradisi adat Pire Te’u mengajarkan masyarakat untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat adat di Kabupaten Ende.
Hal itu disampaikan Porterius dalam dialog Program Suara Nusantara RRI Ende 27 Juli 2026 yang berlangsung di Aula Kantor Desa Manulondo, Kecamatan Ndona. Dialog tersebut membahas peran budaya lokal dalam menjaga ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan masyarakat.
Menurut Porterius, Pire Te’u merupakan ritual adat yang diwariskan turun-temurun dan dilaksanakan menjelang musim tanam. Tradisi itu mengatur berbagai pantangan yang wajib dipatuhi masyarakat selama masa ritual berlangsung.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat dilarang melakukan aktivitas tertentu seperti menebang pohon, membakar sampah, maupun mengambil hasil kebun sebelum ritual selesai dilakukan. Aturan tersebut bertujuan menjaga kesucian lingkungan dan membangun kesadaran masyarakat untuk menghormati alam.
“Kesuksesan seorang petani tidak hanya bergantung pada kemampuan dirinya sendiri, tetapi juga bagaimana manusia menjaga hubungan dengan alam dan Tuhan,” ujarnya.
Porterius menjelaskan, masyarakat adat percaya bahwa menjaga alam dengan baik akan membawa kesejahteraan dan kedamaian bagi kehidupan bersama. Karena itu, adat menjadi pedoman penting dalam mengatur hubungan manusia dengan lingkungan sekitar.
Selain memiliki nilai spiritual, ritual Pire Te’u juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat adat dalam mendukung keberhasilan pertanian. Seluruh masyarakat terlibat dan saling mengingatkan agar aturan adat tetap dijalankan dengan baik.
Ia menambahkan, tradisi tersebut terus dipertahankan karena dianggap memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat Ndona. Nilai gotong royong dan penghormatan terhadap alam dinilai masih relevan di tengah perkembangan zaman saat ini.
Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi, Porterius berharap generasi muda tetap menjunjung tinggi adat istiadat serta menjaga warisan budaya leluhur agar tidak hilang.
Menurutnya, kaum muda merupakan penerus estafet budaya yang akan menentukan keberlanjutan tradisi adat di masa depan.
“Kalau generasi muda tidak menjaga adat, maka perlahan budaya lokal bisa hilang,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....