BMKG Peringatkan Kemarau NTB Memanjang hingga Akhir Tahun

  • 05 Jul 2026 15:04 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) telah memasuki musim kemarau. Namun, kondisi tahun ini diperkirakan berbeda karena dipengaruhi fenomena El Nino berkategori moderat hingga kuat yang berpotensi memperpanjang musim kemarau dan menggeser awal musim hujan.

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, menjelaskan masyarakat perlu memahami perbedaan antara musim kemarau dengan fenomena El Nino. Menurutnya, kedua kondisi tersebut kerap disalahartikan, bahkan muncul berbagai istilah yang tidak dikenal dalam kajian ilmiah BMKG.

"Kalau di BMKG tidak ada istilah El Nino Godzilla seperti yang ramai di media sosial. El Nino memiliki ukuran ilmiah yang jelas, mulai dari kondisi netral, lemah, moderat, kuat hingga sangat kuat. Seluruhnya diukur menggunakan indeks yang sudah baku," ujarnya, Minggu 5 Juli 2026.

Marjuki menegaskan, pemerintah telah memiliki pengalaman menghadapi berbagai tingkat kekuatan El Nino, termasuk saat fenomena ekstrem yang pernah terjadi pada 1997, 2015, dan 2023. Berbekal pengalaman tersebut, pemerintah pusat maupun daerah telah memiliki langkah mitigasi yang terukur untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan.

"Setiap kategori El Nino memiliki karakteristik dan langkah penanganan yang berbeda. Semua sudah berdasarkan pengalaman dan perhitungan ilmiah sehingga tidak perlu disikapi dengan kepanikan," katanya.

Ia menjelaskan, saat ini NTB memang sudah berada dalam musim kemarau. Namun, karena indeks El Nino berada pada kategori moderat hingga kuat, proses pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia diperkirakan tidak berlangsung normal.

Menurutnya, uap air masih banyak tertahan di kawasan Samudra Pasifik sehingga curah hujan yang biasanya mulai meningkat pada Oktober hingga November berpotensi berada di bawah kondisi normal.

"Dampaknya, musim hujan di NTB berpeluang mengalami kemunduran. Jika biasanya mulai terjadi sekitar November, tahun ini bisa saja bergeser hingga akhir Desember. Artinya, musim kemarau akan berlangsung lebih lama sekitar satu bulan atau bahkan lebih," ucapnya.

BMKG mengingatkan dampak paling besar dari kemunduran musim hujan adalah berkurangnya ketersediaan air, terutama untuk sektor pertanian dan kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Marjuki mengatakan, keterlambatan datangnya hujan akan memengaruhi jadwal tanam petani karena pasokan air irigasi menjadi semakin terbatas. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi produktivitas hasil pertanian apabila tidak diantisipasi sejak dini.

Selain sektor pertanian, ketersediaan air bersih juga menjadi perhatian utama. Daerah-daerah yang selama ini memiliki kerentanan terhadap kekeringan diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan berkurangnya sumber air selama musim kemarau berlangsung.

"Yang paling penting adalah ketersediaan air bersih. Saya belum mengetahui wilayah mana di NTB yang memiliki kerawanan tinggi terhadap persoalan tersebut, tetapi hal itu perlu menjadi perhatian pemerintah daerah agar langkah antisipasi dapat dilakukan lebih awal," katanya menegaskan.

BMKG mengimbau masyarakat, pemerintah daerah, pelaku pertanian, hingga pengelola sumber daya air untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim yang disampaikan secara resmi. Langkah mitigasi sejak dini dinilai menjadi kunci untuk mengurangi dampak kemarau panjang yang diperkirakan terjadi tahun ini.

"Kami berharap seluruh pihak memanfaatkan informasi iklim sebagai dasar dalam mengambil keputusan sehingga dampak kemarau yang lebih panjang dapat diminimalkan," katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....