Sekolah Lapang Iklim BMKG Siapkan Petani NTB Hadapi Cuaca Ekstrem
- 05 Jul 2026 15:03 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat – Komitmen memperkuat kemampuan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim terus diperkuat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui pelaksanaan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2026. Kegiatan yang digelar di Ujung Landasan Restaurant, Dasan Tapen, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Minggu 5 Juli 2026, menjadi wadah strategis untuk membangun kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan ketahanan pertanian berbasis informasi iklim.
Kegiatan tersebut dihadiri Anggota Komisi V DPR RI Daerah Pemilihan NTB II H. Abdul Hadi, S.E., M.M., Kepala Stasiun Klimatologi BMKG NTB Nuga Putrantijo, serta diikuti sekitar 50 peserta yang berasal dari berbagai instansi pemerintah dan perwakilan desa se-Kabupaten Lombok Barat.
Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, mengungkapkan Provinsi NTB memiliki sejarah penting dalam pengembangan Sekolah Lapang Iklim di Indonesia. Menurutnya, daerah ini merupakan salah satu provinsi pertama yang dijadikan proyek percontohan karena memiliki karakteristik yang sangat relevan terhadap isu perubahan iklim, khususnya pada sektor pertanian.
"NTB merupakan salah satu provinsi pertama yang menjadi pilot project Sekolah Lapang Iklim. Penetapan itu bukan tanpa alasan, karena daerah ini memiliki posisi yang sangat strategis dalam konteks perubahan iklim lokal, sementara sektor utamanya adalah pertanian dan masyarakatnya sangat terbuka menerima program ini," ujarnya.
Marjuki menjelaskan, sejak pertama kali dilaksanakan, Sekolah Lapang Iklim di NTB mendapat respons luar biasa dari berbagai kalangan. Bahkan, sektor swasta turut menunjukkan ketertarikan untuk terlibat dalam pengembangan program tersebut.
"Dari pengalaman itu kami menyimpulkan bahwa pelaksanaan Sekolah Lapang Iklim di NTB sangat efektif. Antusiasme masyarakat tinggi dan bahkan pihak swasta juga ingin ikut berkontribusi dalam pengembangannya," katanya.
Ia juga menegaskan bahwa informasi iklim yang disampaikan BMKG memiliki tingkat akurasi berbeda sesuai rentang waktu prediksi. Prediksi cuaca jangka pendek, terutama untuk sektor penerbangan, membutuhkan akurasi yang sangat tinggi karena berkaitan langsung dengan keselamatan.
"Untuk kebutuhan penerbangan, tingkat akurasinya harus di atas 90 hingga 99 persen karena tidak boleh terjadi kesalahan. Namun untuk prediksi musim yang jangkanya lebih panjang, tentu terdapat tingkat ketidakpastian yang lebih besar karena faktor alam selalu memiliki potensi perubahan," tegasnya.
Meski demikian, Marjuki memastikan BMKG terus memperbarui seluruh informasi iklim secara berkala agar masyarakat memperoleh data terbaru yang dapat dijadikan dasar dalam mengambil keputusan.
"Informasi yang kami berikan bukan sesuatu yang statis. Setiap sepuluh hari hingga satu bulan selalu kami lakukan pembaruan sehingga sektor pertanian memiliki waktu melakukan penyesuaian atau intervensi sebelum terjadi dampak yang lebih besar," ucapnya.
Untuk mendukung mitigasi bencana, lanjutnya, BMKG juga menyediakan informasi cuaca dalam skala waktu yang lebih singkat, mulai dari prakiraan mingguan, tiga harian, harian hingga layanan nowcasting yang memberikan informasi kondisi cuaca secara real time.
Menurut Marjuki, tantangan terbesar dalam menghadapi perubahan iklim bukan hanya persoalan teknologi prediksi, tetapi bagaimana membangun sinergi seluruh pemangku kepentingan.
"Mitigasi maupun adaptasi perubahan iklim tidak mungkin dikerjakan BMKG sendirian. Pemerintah daerah harus terlibat aktif bersama dinas pertanian, dinas pengairan, hingga berbagai lembaga lainnya. Semua harus bergerak bersama karena ini merupakan pekerjaan kolaboratif," katanya menegaskan.
Ia menambahkan, BMKG terus mengembangkan berbagai inovasi agar informasi cuaca semakin mudah dipahami masyarakat. Penyampaian informasi kini tidak lagi sekadar berupa angka atau data teknis, tetapi dikemas secara visual menggunakan sistem warna yang sederhana sehingga lebih mudah diterjemahkan oleh masyarakat.
"Sekarang kami menyampaikan informasi sesuai kebutuhan masyarakat. Misalnya intensitas hujan menggunakan gradasi warna, sementara peringatan cuaca ekstrem menggunakan warna merah yang dilengkapi langkah-langkah antisipasi secara bertahap. Inovasi seperti ini akan terus kami kembangkan agar informasi iklim semakin mudah dipahami dan dimanfaatkan," katanya mengakhiri.
Melalui Sekolah Lapang Iklim 2026, BMKG berharap para peserta mampu memanfaatkan informasi iklim secara optimal dalam mendukung produktivitas pertanian, mengurangi risiko bencana hidrometeorologi, sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Nusa Tenggara Barat melalui kolaborasi seluruh pihak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....