BMKG Perkuat Ketahanan Iklim Melalui Kolaborasi Riset Partisipatif Masyarakat

  • 01 Jul 2026 13:32 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Kupang – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat upaya peningkatan ketahanan iklim masyarakat melalui kolaborasi riset partisipatif yang melibatkan akademisi, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lokal. Inisiatif ini diharapkan mampu meningkatkan pemanfaatan informasi cuaca dan iklim dalam pengambilan keputusan sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim.

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui riset Model of Future-Proofing for Climate Resilience by Engaging Communities (MoFCREC) yang diinisiasi Monash University, Australia. Penelitian yang berlangsung sejak 2023 ini didukung Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia melalui program KONEKSI (Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia) dan melibatkan BMKG melalui Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kepala Stasiun Klimatologi NTT, Rahmattulloh Adji, dalam rilisnya, Selasa, 30 Juni 2026 mengatakan kolaborasi lintas sektor menjadi langkah penting dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap informasi cuaca dan iklim yang diterbitkan BMKG. Menurutnya, pemahaman yang baik akan mendorong masyarakat memanfaatkan informasi tersebut sebagai dasar pengambilan keputusan untuk mengurangi risiko bencana dan dampak perubahan iklim.

"BMKG memiliki peran strategis dalam menyediakan informasi cuaca dan iklim sebagai dasar pengambilan keputusan sekaligus edukasi publik. Kami berharap video edukasi ini dapat membumikan literasi iklim, meningkatkan pemanfaatan informasi BMKG di tingkat tapak demi keselamatan, ketahanan, serta kesejahteraan bersama," ujarnya.

Riset MoFCREC menitikberatkan pada penguatan kapasitas kelompok rentan, seperti perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas, yang selama ini dinilai belum optimal terakomodasi dalam kebijakan adaptasi perubahan iklim. Menindaklanjuti temuan mengenai masih adanya kesenjangan komunikasi sains di tingkat masyarakat, proyek tersebut kemudian diperluas melalui program riset lanjutan yang dipimpin Prof. Sharyn Davies dengan Dr. Welmince Djulete sebagai Manajer Proyek Ekstensi di Indonesia.

Salah satu hasil kolaborasi itu adalah peluncuran Video Edukasi Informasi Cuaca dan Iklim yang terdiri atas Seri Sektor Pertanian dan Seri Peringatan Dini Cuaca Ekstrem. Produk edukasi tersebut diluncurkan dalam Stakeholder Workshop di Hotel Sotis Kupang pada 11 Juni 2026 dengan dukungan GARAMIN NTT dan Yayasan Tunas Aksara.

Pemerintah Provinsi NTT menyambut positif hasil penelitian tersebut. Pelaksana Tugas Kepala Bapperida Provinsi NTT, Theresia Maria Florensia, menilai berbagai produk pengetahuan yang dihasilkan dapat menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan pembangunan daerah yang lebih adaptif, inklusif, dan responsif terhadap kelompok rentan.

"Produk pengetahuan seperti Buku Saku Ketahanan Iklim dan Policy Brief memberikan kompas berharga bagi kami dalam menyusun kebijakan perencanaan daerah yang lebih inklusif, responsif gender, dan ramah disabilitas dalam menghadapi dampak perubahan iklim," katanya.

Ketua Tim Peneliti Monash University, Prof. Sharyn Davies, menegaskan strategi adaptasi perubahan iklim akan lebih efektif apabila mengintegrasikan pendekatan berbasis komunitas dengan nilai-nilai lokal dan spiritualitas yang berkembang di masyarakat. Dukungan terhadap kolaborasi tersebut juga disampaikan Konsulat Jenderal Australia di Makassar, Todd Dias, yang menekankan pentingnya kemitraan pengetahuan antara Indonesia dan Australia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Kolaborasi yang dibangun melalui proyek MoFCREC menghasilkan sejumlah produk pengetahuan, mulai dari video edukasi, buku saku, hingga rekomendasi kebijakan. Seluruh luaran tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi iklim dan mendukung pengembangan kebijakan adaptasi perubahan iklim yang lebih inklusif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....