Selo Bonang Jadi Panggung Riset Budaya Mahasiswa UNEJ

  • 30 Jun 2026 20:20 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember: Kawasan budaya Selo Bonang di lereng Pegunungan Hyang Argopuro kembali menjadi pusat perhatian akademisi. Tim mahasiswa Program Studi Televisi dan Film Universitas Jember (UNEJ) melakukan survei lokasi untuk produksi film dokumenter Ritus Pager Gunung 2026, sebuah karya yang akan merekam tradisi tahunan masyarakat pegunungan sebagai bentuk rasa syukur dan pelestarian nilai budaya. Kegiatan survei dilakukan dengan menelusuri berbagai titik penting di kawasan Selo Bonang, mulai dari jalur pegunungan, Lembah Batu Bernyanyi, hingga ruang-ruang lanskap budaya yang akan menjadi lokasi utama pengambilan gambar. Seluruh area tersebut diproyeksikan menjadi panggung visual yang merepresentasikan relasi antara manusia, alam, dan tradisi yang hidup secara turun-temurun.

Perjalanan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai proses teknis produksi film, melainkan juga sebagai upaya memahami kedalaman nilai budaya yang melekat pada ruang hidup masyarakat setempat. Founder Yayasan Nara Bestari Indonesia sekaligus pengelola Selo Bonang, Hadi Poernomo, menegaskan bahwa inisiatif dokumentasi ini merupakan bagian dari penguatan ekosistem kebudayaan berbasis masyarakat yang telah dibangun selama lebih dari satu dekade. Kepada RRI ia menekankan bahwa Selo Bonang tidak hanya berfungsi sebagai ruang konsekrasi budaya, tetapi juga sebagai medium transformasi sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah pegunungan.

"Kami percaya kebudayaan tidak hanya diwariskan melalui cerita, tetapi juga melalui tindakan nyata yang menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Ritus Pager Gunung adalah perayaan rasa syukur, sementara Selo Bonang adalah ruang pembelajaran tentang bagaimana budaya, alam, dan kemanusiaan dapat tumbuh bersama. Ritus Pager Gunung yang digelar setiap tahun merupakan tradisi masyarakat sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kehidupan, kesuburan alam, serta keberlanjutan hubungan manusia dengan lingkungannya. Tradisi ini juga menjadi simbol gotong royong dan identitas budaya masyarakat pegunungan Argopuro." ujarnya, 30 Juni 2026.

Selama lebih dari satu dekade, Selo Bonang telah berkembang sebagai kawasan pengabdian masyarakat yang memberikan dampak nyata di bidang sosial, budaya, dan ekonomi. Berbagai program pemberdayaan telah dijalankan, mulai dari pembangunan infrastruktur dasar hingga penguatan fasilitas sosial di wilayah terpencil. Di antaranya adalah pembangunan jaringan sanitasi air bersih sepanjang kurang lebih tiga kilometer beserta tandon air yang kini dimanfaatkan oleh ratusan kepala keluarga di Dusun Sumbercandik, Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember.

Selain itu, dilakukan pula renovasi masjid tertua di kawasan 3T, pembangunan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) dan mushola untuk anak-anak putus sekolah, serta pembangunan fasilitas MCK dan bantuan sarana publik seperti genset dan perangkat sound system untuk kegiatan masyarakat. Pendekatan pembangunan yang dilakukan Selo Bonang mengintegrasikan aspek budaya, pendidikan, dan kesejahteraan sosial sebagai satu kesatuan ekosistem pengabdian.

Hadi Poernomo menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak dapat dipisahkan dari peningkatan kualitas hidup masyarakat.

“Ketika budaya hidup, maka masyarakat juga harus hidup lebih baik. Karena itu, setiap kegiatan kebudayaan harus memberi dampak langsung bagi lingkungan sosial di sekitarnya, Dalam beberapa tahun terakhir, Selo Bonang juga mengalami pertumbuhan sebagai destinasi volunteer tourism yang menarik minat relawan, peneliti, dan wisatawan dari berbagai negara, termasuk Rusia, Australia, Spanyol, Polandia, dan Jerman. Aktivitas ini turut membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat lokal melalui jasa pemanduan, homestay, kuliner, hingga produk kreatif berbasis komunitas.” ujarnya.

Produksi film dokumenter Ritus Pager Gunung 2026 diharapkan menjadi medium penting dalam memperluas jangkauan nilai-nilai budaya tersebut ke tingkat nasional maupun internasional. Film ini tidak hanya merekam ritual budaya, tetapi juga menegaskan posisi Selo Bonang sebagai model pengembangan kawasan berbasis budaya yang mengintegrasikan konservasi alam, pemberdayaan masyarakat, pendidikan, dan ekonomi berkelanjutan. Dengan demikian, Selo Bonang tidak sekadar menjadi lokasi, melainkan ruang hidup yang terus memproduksi makna, pengetahuan, dan harapan bagi generasi masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....