Bukan Sekadar Baksos, Mahasiswa Majalengka Bantu Cari Solusi Sampah

  • 30 Jun 2026 07:55 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Majalengka – Pagi di Desa Singawada, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka, terasa berbeda. Di antara aktivitas warga yang mulai menggeliat, puluhan mahasiswa tampak berbaur, menyatu dalam ritme kehidupan desa.

Mereka bukan sekadar tamu, melainkan bagian dari upaya membangun harapan baru. Adalah Himpunan Mahasiswa Majalengka (HIMMAKA) Cirebon yang selama dua pekan, sejak 22 Juni hingga 5 Juli 2026, menjalankan program pengabdian bertajuk HIMMAKA Berdaya.

Program ini tidak berhenti pada kegiatan bakti sosial konvensional, melainkan mengusung pendekatan pemberdayaan masyarakat berbasis partisipasi aktif warga. Dengan menjadikan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan, mahasiswa hadir sebagai fasilitator yang mendampingi proses perubahan.

Beragam program digelar secara terintegrasi, mencakup sektor pendidikan, lingkungan, ekonomi, keagamaan, hingga penguatan kapasitas masyarakat desa. Ketua Umum HIMMAKA Cirebon, Arfi Muhammad Fajar, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat.

"Program ini dirancang bukan sekadar menjalankan agenda organisasi, tetapi menghadirkan dampak nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat," ujarnya, Selasa, 30 Juli 2026.

Selama pelaksanaan, mahasiswa tidak hanya menggelar kegiatan edukatif, tetapi juga membangun interaksi yang intens dengan warga. Edukasi lingkungan menghadirkan kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup, sementara sektor pendidikan diperkuat melalui sinergi bersama Dinas Pendidikan.

Anak-anak desa pun dilibatkan dalam berbagai kegiatan kreatif yang membangun semangat belajar. Lebih dari itu, program ini diarahkan untuk menumbuhkan semangat gotong royong, menggali potensi lokal, serta menciptakan kader-kader penggerak desa yang mampu melanjutkan program secara mandiri.

Kehadiran mahasiswa disambut positif oleh Pemerintah Desa Singawada. Kepala Desa Singawada, Hj. Neneng Arnengsih, melihat program ini sebagai peluang untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat.

"Salah satu tantangan kami saat ini adalah pengelolaan sampah. Kami berharap mahasiswa dapat memberikan solusi dan edukasi agar persoalan ini bisa ditangani bersama," ucapnya menuturkan.

Isu pengelolaan sampah memang menjadi fokus penting dalam program ini. Mahasiswa berupaya menggali akar persoalan sekaligus mendorong kesadaran kolektif warga untuk menciptakan sistem pengelolaan yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Ketua Dewan Pembina HIMMAKA Cirebon, Dr. H. Ahmad Yani, M.Ag, mengingatkan bahwa pengabdian harus dimaknai sebagai proses belajar bersama masyarakat, bukan sekadar kegiatan seremonial. "Mahasiswa hadir sebagai mitra, bukan pengganti. Mereka harus berjalan bersama masyarakat, menemukan solusi bersama, dan tumbuh bersama menuju desa yang mandiri," katanya menegaskan.

Ia menekankan, keberhasilan program tidak diukur dari banyaknya kegiatan, melainkan dari meningkatnya kapasitas masyarakat dalam melanjutkan program secara mandiri. Pandangan tersebut diperkuat oleh Ketua Ikatan Alumni HIMMAKA Cirebon, Jejep Falahul Alam.

Menurutnya, indikator keberhasilan program meliputi terpetakannya potensi dan persoalan desa, meningkatnya partisipasi masyarakat, serta lahirnya kader-kader lokal yang mampu menjadi penggerak. "Keberhasilan sejati terlihat ketika program tetap berjalan meski mahasiswa telah kembali, dan kemitraan dengan desa terus berlanjut," ujarnya.

Melalui semangat kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat, program HIMMAKA Berdaya diharapkan menjadi titik awal transformasi. Dari Desa Singawada, sebuah model pemberdayaan tumbuh pelan namun pasti menuju desa yang mandiri, berdaya, dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....