TPA Kian Penuh, DLHP Manggarai Barat Tekankan Pentingnya Pemilahan Sampah

  • 27 Jun 2026 16:11 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumber untuk mengurangi beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang kapasitasnya semakin terbatas.

Hal itu disampaikan Kepala DLHP Kabupaten Manggarai Barat, Vinsensius Gande, di sela aksi bersih lingkungan dalam rangka memperingati Hari Laut Sedunia 2026. Menurutnya, pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan memungut sampah, tetapi harus dilanjutkan dengan proses pemilahan agar hanya sampah residu yang dibuang ke TPA.

“Kondisi TPA kita makin hari makin penuh. Karena itu, sampah yang terkumpul seharusnya dipilah terlebih dahulu. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi disimpan untuk didaur ulang, sedangkan residunya saja yang dibawa ke TPA,” kata Vinsensius, Sabtu 27 Juni 2026.

Dirinya juga mengatakan, setiap sampah hasil kegiatan bersih-bersih akan ditimbang dan dicatat untuk mengetahui jumlah sampah yang berhasil dikurangi sebelum masuk ke TPA.

“Nantinya kita timbang, dicatat, kemudian dihitung berapa pengurangan sampah yang tidak masuk ke TPA. Ini menjadi bagian dari upaya mengurangi beban tempat pemrosesan akhir,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, DLHP menyiapkan satu unit mobil pikap untuk mengangkut sampah hasil aksi bersih-bersih. Menurut Vinsensius, kendaraan tersebut dinilai cukup karena volume sampah yang diperkirakan terkumpul tidak terlalu besar.

“Sebenarnya bisa menggunakan truk, tetapi berdasarkan perkiraan volume sampah, satu unit mobil pikap sudah memadai,” ungkapnya .

Vinsensius menilai peringatan Hari Laut Sedunia harus menjadi momentum untuk mendorong aksi nyata dalam menjaga lingkungan, mengingat sampah yang dibuang di daratan pada akhirnya akan bermuara ke laut.

“Laut, sungai, dan wilayah hulu merupakan satu kesatuan ekosistem. Karena itu, menjaga laut harus dimulai dari pengelolaan sampah di daratan,” katanya.

Ia juga berharap organisasi nonpemerintah (NGO) yang mendampingi masyarakat di kawasan Bentang Alam Mbeliling dapat memasukkan program pengelolaan sampah berbasis desa ke dalam agenda pendampingan mereka.

Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat perlu dimulai dari penyediaan sarana dasar seperti tempat sampah hingga membangun kebiasaan membuang sampah pada tempatnya.

“Kami berharap ke depan gerakan pengelolaan sampah tidak hanya dilakukan melalui aksi bersih-bersih, tetapi menjadi budaya masyarakat yang dimulai dari desa sehingga dapat berjalan secara berkelanjutan,” ucap Vinsensius.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....