Gen Z Jawa Barat Terjebak Paradoks Konektivitas, Alma: 38 Persen Alami Nomophobia

  • 26 Jun 2026 19:45 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Generasi Z (Gen Z) di Provinsi Jawa Barat saat ini tengah menghadapi "paradoks konektivitas" yang cukup memprihatinkan. Di satu sisi, mereka menjadi kelompok yang paling terhubung secara digital dengan penetrasi internet mencapai 99 persen , namun di sisi lain mereka justru merasa terisolasi secara sosial dan mengalami penurunan kualitas interaksi nyata di dunia nyata.

Fenomena psikososial yang mengkhawatirkan ini terungkap dalam hasil riset terbaru Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat bertajuk "Gen Z Media Habits: Navigating the Digital Era Psychological Perspective". Riset kuantitatif deskriptif ini melibatkan 601 responden berusia 15-24 tahun yang tersebar proporsional di enam cluster wilayah Jawa Barat.

Wakil Ketua KPID Provinsi Jawa Barat, Almadina Rakhmaniar, mengungkapkan, media digital kini bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan telah bermutasi menjadi infrastruktur sosial psikologis utama bagi kehidupan generasi muda. Berdasarkan data aktual, tercatat sebanyak 99,83 persen responden aktif berselancar di media sosial setiap harinya.

"Ada gap perilaku yang sangat mendesak untuk segera diatasi. Meskipun secara kognitif tingkat literasi digital mereka tergolong baik dan sadar akan risiko di dunia maya, para remaja ini tetap tidak mampu menghindar dari dampak psikologis yang ditimbulkan," ujar Almadina Rakhmaniar saat memaparkan hasil riset dalam kegiatan Literasi Media untuk Masyarakat, di Karawang, Jumat 26 Juni 2026.

Pakar psikologi komunikasi ini menambahkan, salah satu ancaman nyata yang saat ini mengintai Gen Z di Jawa Barat adalah meluasnya gejala Nomophobia (No Mobile Phone Phobia), yaitu ketakutan dan kecemasan ekstrem saat tidak bisa mengakses ponsel pintar. Berdasarkan hasil survei menggunakan kuesioner terstruktur skala Likert, sebanyak 38,10 persen responden secara blak-blakan mengakui bahwa mereka mengidap gejala tersebut.

"Nomophobia ini sudah menjadi ancaman nyata yang sayangnya belum ditangani secara sistematis. Ketika gawai beralih fungsi menjadi attachment object atau sumber validasi dan keamanan emosi, maka kehilangan akses terhadap gawai tersebut akan langsung memicu kecemasan kronis. Siklus toksik ini diperparah oleh sindrom FOMO (Fear of Missing Out) dan mekanisme social comparison (perbandingan sosial) akibat paparan konten ideal atau sempurna di media sosial yang terus-menerus menggerus kepercayaan diri mereka ," jelasnya.

Dampak dari ketergantungan gawai ini tidak berhenti pada kesehatan mental saja, melainkan merembet pada rusaknya pola komunikasi interpersonal. Riset KPID Jabar mencatat lebih dari 70 persen responden mengalami pergeseran pola interaksi sosial. Mereka kini lebih akrab dengan fenomena phubbing (phone snubbing), yakni tindakan mengabaikan orang di sekitar demi menatap layar gawai. Akibatnya, obrolan tatap muka yang hangat kini berganti menjadi rentetan pesan teks dan emoji di ruang digital.

Selain media sosial, riset ini juga memetakan komparasi konsumsi media konvensional oleh Gen Z. Saluran televisi konvensional rupanya masih memiliki daya pikat yang kuat dengan angka penetrasi mencapai 86,5 persen, di mana mayoritas konten yang ditonton adalah hiburan dan gaya hidup sebesar 65,56 persen. Sebaliknya, nasib radio kian terancam karena sebanyak 44,75 persen generasi muda sudah jarang atau bahkan tidak pernah lagi mendengarkan siaran radio.

Menyikapi temuan krusial ini, KPID Jawa Barat mengeluarkan sejumlah rekomendasi strategis berbasis psikologis yang ditujukan kepada lembaga pendidikan, pemerintah, dan industri digital. KPID mendorong sekolah dan kampus untuk merancang program Digital Detox berkala guna memitigasi Nomophobia, serta mengintegrasikan kurikulum etika dan empati digital yang bersumber pada nilai Pancasila dan adab berinternet.

Di samping itu, lebih dari 90 persen responden dalam riset ini menyatakan setuju dan mendukung adanya regulasi ketat terkait pembatasan usia dalam mengakses media sosial dan layanan Over-The-Top (OTT) demi melindungi kesehatan mental anak.

Keseimbangan antara pemanfaatan kemajuan teknologi dan perlindungan kesehatan psikologis merupakan kunci utama dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang Istimewa. Langkah kolaboratif yang sistematis menjadi harga mati agar generasi muda di Jawa Barat tidak melulu terjebak dalam ruang hampa digital, melainkan mampu tumbuh menjadi pilar kokoh menuju terwujudnya Jawa Barat Istimewa dan Indonesia Maju.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....