Sampah dan Krisis Air Ancam Ketahanan Lingkungan NTT
- 26 Jun 2026 14:03 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ngada – Persoalan sampah dan menurunnya ketersediaan air bersih masih menjadi tantangan lingkungan paling serius di Nusa Tenggara Timur. Kondisi tersebut dikhawatirkan semakin memburuk apabila tidak diimbangi dengan peningkatan kesadaran masyarakat dan upaya pemulihan ekosistem secara berkelanjutan.
Ketua Komunitas Jagat Nata, Francisco Felix Nabuboga, mengatakan rendahnya kesadaran dalam pengelolaan sampah masih menjadi masalah yang ditemukan di banyak wilayah. Di sisi lain, sejumlah sumber mata air mengalami penurunan debit yang tidak sebanding dengan meningkatnya kebutuhan penduduk.
Menurut pria yang akrab disapa Bang Uyun itu, kerusakan kawasan tangkapan air dan daerah aliran sungai turut mempercepat menurunnya kemampuan lingkungan dalam menyimpan cadangan air tanah. Kondisi tersebut berpotensi mengancam ketahanan air bersih masyarakat pada masa mendatang.
“Masalah sampah terjadi di mana-mana akibat rendahnya kesadaran, ditambah lagi masalah penurunan debit air bersih,” ujar Bang Uyun dalam program Komunitas Bicara Pro 1 Radio Republik Indonesia Ende, Senin, 2 Maret 2026.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi tersebut, Komunitas Jagat Nata melakukan ekspedisi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Aesa selama tiga tahun berturut-turut. Kegiatan itu bertujuan memetakan sumber-sumber air dari hulu hingga hilir sekaligus memahami keterkaitan antara kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat.
Hasil pengamatan komunitas menunjukkan pemulihan ekosistem memerlukan pendekatan berbasis data dan dukungan keilmuan yang memadai. Rehabilitasi kawasan hutan dan daerah resapan dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air.
Bang Uyun menilai kolaborasi antara pemerintah, komunitas, akademisi, dan masyarakat perlu diperkuat untuk mencegah krisis lingkungan yang lebih besar. Dukungan terhadap gerakan konservasi berbasis masyarakat dinilai dapat mempercepat upaya perlindungan sumber daya alam di daerah.
Masyarakat juga diajak memulai perubahan dari lingkungan terkecil dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai serta menjaga kebersihan sungai dan saluran air. Langkah sederhana tersebut diyakini dapat memberikan dampak besar bagi keberlanjutan lingkungan dan ketersediaan air bersih di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....