Mobil Terbang dan Pojok Baca, Cara RBC Menjangkau Literasi hingga Daerah Pinggiran

  • 23 Jun 2026 17:43 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Ketika banyak lembaga fokus membangun literasi melalui ruang kelas dan platform digital, Rumah Baca Cerdas (RBC) Ahmad Malik Fajar Institute memilih turun langsung ke masyarakat. Salah satu program andalannya adalah Mobil Terbang, singkatan dari Bakti Terhadap Bangsa.

Program ini menjadi upaya nyata RBC untuk menghadirkan akses literasi kepada masyarakat yang belum terjangkau fasilitas perpustakaan maupun layanan pendidikan memadai.

Direktur RBC Ahmad Malik Fajar Institute, Dr. Faizin, M.Pd., menjelaskan bahwa mobil tersebut membawa berbagai layanan literasi langsung ke sekolah, kampung, hingga wilayah marginal.

“Di dalamnya bukan hanya ada buku, tetapi juga permainan edukasi, mentoring, pelatihan, hingga literasi digital yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat,” katanya, Selasa (23/6/2026).

RBC sendiri telah aktif sejak awal tahun 2000-an dan berkembang pesat sejak 2005. Lembaga yang didirikan oleh mantan Menteri Pendidikan Nasional Ahmad Malik Fajar itu awalnya berfokus pada pengentasan buta aksara dan penyediaan akses bacaan bagi masyarakat.

Hingga kini, visi tersebut terus dijaga dengan menyediakan perpustakaan, ruang belajar, program kajian multidisiplin, serta pendampingan mutu lembaga pendidikan.

“Pak Malik ingin literasi menjadi jalan peningkatan sumber daya manusia. Karena itu buku-buku pribadinya juga dihibahkan untuk dibaca masyarakat,” ujar Faizin.

Selain Mobil Terbang, RBC juga mengembangkan Malik Fajar Corner, yakni pojok baca yang telah hadir di sejumlah daerah seperti Gresik dan Nusa Tenggara Barat, termasuk dua titik di Sumbawa.

Pojok baca tersebut menyediakan berbagai koleksi, mulai dari buku pengetahuan umum hingga buku keterampilan hidup yang belum banyak ditemukan di lingkungan sekolah.

RBC bahkan pernah mendorong hadirnya pojok baca di area publik seperti bandara dan stasiun kereta api sebagai bagian dari upaya membangun budaya membaca.

Meski tingkat kunjungannya belum setinggi tempat hiburan atau pusat perbelanjaan, keberadaan fasilitas tersebut dinilai sebagai langkah penting untuk menumbuhkan kebiasaan membaca di ruang publik.

Faizin menilai rendahnya minat baca masyarakat Indonesia tidak selalu disebabkan kurangnya fasilitas, tetapi karena belum tumbuhnya kebutuhan terhadap informasi yang tersedia dalam bacaan.

Menurutnya, banyak orang membaca ketika memiliki tujuan yang jelas, seperti mencari jawaban atas suatu persoalan atau menyelesaikan tugas tertentu.

“Kalau belum ada kebutuhan, orang cenderung tidak membaca. Tantangannya adalah bagaimana membuat masyarakat merasa bahwa informasi yang mereka butuhkan ada di dalam bacaan,” ujarnya.

Karena itu, RBC berupaya membangun literasi melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk melalui permainan, pelatihan, dan pendampingan komunitas.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, RBC juga mendorong konsep literasi digital yang tetap berakar pada budaya Indonesia.

Menurut Faizin, ruang digital tidak boleh dipandang sebagai ruang bebas tanpa etika. Nilai-nilai kesopanan, komunikasi yang baik, dan penghormatan terhadap orang lain harus tetap hadir meski interaksi dilakukan secara virtual.

“Literasi digital Indonesia harus memiliki warna budaya Indonesia. Teknologi boleh berkembang, tetapi nilai-nilai sosial dan budaya jangan sampai hilang,” tegasnya.

Dengan kombinasi program literasi konvensional, digital, hingga layanan jemput bola melalui Mobil Terbang, RBC berharap semakin banyak masyarakat yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dan karakter kebangsaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....