Harga Singkong Melonjak, Pengusaha Tape Binakal Kurangi Produksi

  • 01 Jun 2026 17:09 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Bondowoso – Kenaikan harga singkong yang mencapai lebih dari dua kali lipat dalam sebulan terakhir mulai memukul industri tape di Kabupaten Bondowoso. Dari total 138 pengusaha tape di Sentra Industri Tape Desa Sumbertengah, Kecamatan Binakal, sekitar 60 persen di antaranya terpaksa mengurangi volume produksi, bahkan sebagian menghentikan usahanya sementara akibat sulitnya mendapatkan bahan baku.

Harga singkong yang sebelumnya berkisar Rp2.000 per kilogram kini melonjak menjadi Rp4.500 per kilogram. Kondisi tersebut diduga dipicu oleh menyusutnya lahan pertanian singkong karena banyak petani beralih menanam komoditas lain seperti tebu, jagung, sengon, dan kedelai. Di sisi lain, jumlah pengusaha tape di Bondowoso terus bertambah sehingga kebutuhan bahan baku semakin meningkat.

Koordinator Pengusaha Tape Sentra Tape Binakal, Rahmatullah, mengatakan kelangkaan singkong membuat banyak pelaku usaha kesulitan mempertahankan kapasitas produksi. Bahkan, dirinya juga harus memangkas produksi hingga 50 persen.

“Penyebab utamanya karena bahan baku kurang, akhirnya harganya naik. Sedangkan uang modal masih mandek di pelanggan. Kami tidak bisa dikirimi singkong kalau belum bayar tunai,” kata Rahmatullah.

Ia menjelaskan, usahanya yang biasanya mengolah sekitar satu ton singkong setiap dua hari kini hanya mampu memproduksi sekitar lima kuintal. Menurutnya, para pengusaha tape di Bondowoso selama ini lebih mengandalkan singkong lokal karena menghasilkan kualitas tape yang lebih baik dibandingkan singkong dari luar daerah.

“Di Bondowoso itu biasanya kami beli di Tamanan. Di seluruh daerah Bondowoso sebetulnya singkongnya bagus, tapi memang ada kelas-kelasnya,” ujarnya.

Rahmatullah menambahkan, singkong dari luar daerah memang relatif lebih murah, tetapi kualitas tape yang dihasilkan dinilai kurang baik karena kandungan airnya lebih tinggi. Selain itu, keunggulannya hanya pada ukuran umbi yang lebih besar.

Keluhan serupa disampaikan Masturi, pemilik usaha Tape 67 di Desa Sumbertengah. Ia mengaku telah mengurangi produksi secara drastis akibat sulitnya memperoleh bahan baku.

Biasanya, Masturi mengolah sekitar dua ton singkong per minggu. Namun selama sebulan terakhir, jumlah tersebut turun menjadi hanya dua hingga tiga kuintal per minggu.

“Sementara itu, omzet penjualan juga menurun. Mau dinaikkan dari harga Rp12 ribu per kilogram, pembelinya tidak mau,” katanya.

Menurut para pelaku usaha, kenaikan harga bahan baku tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada konsumen karena berisiko menurunkan daya beli masyarakat. Akibatnya, margin keuntungan pengusaha semakin tergerus.

Para pengusaha berharap pemerintah daerah segera menghadirkan solusi untuk menjaga keberlangsungan industri tape yang menjadi salah satu produk unggulan Bondowoso. Mereka mengusulkan bantuan permodalan bagi pelaku usaha serta penyediaan lahan khusus untuk pengembangan tanaman singkong.

“Pertama bantuan permodalan, dan kedua adalah ketersediaan lahan untuk ditanami singkong,” pungkas Rahmatullah.

Industri tape di Bondowoso selama ini menjadi salah satu sektor usaha yang menyerap banyak tenaga kerja dan menopang perekonomian masyarakat. Karena itu, para pelaku usaha berharap persoalan kelangkaan singkong dapat segera teratasi agar produksi kembali normal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....