Fenomena Pinjol dan Judi Online Dinilai Ancam Keberkahan Rezeki

  • 29 Mei 2026 13:57 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Fenomena pinjaman online (pinjol) dan judi online dinilai menjadi tantangan besar bagi masyarakat dalam menjaga keberkahan rezeki di era digital. Menurut Dosen Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniri Banda Aceh sekaligus Pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Aceh Besar, Dr. Arif Fadilah, LCMA, kemudahan akses teknologi dan media sosial membuat masyarakat semakin rentan tergoda praktik ekonomi yang tidak sesuai dengan prinsip syariah, terutama yang mengandung unsur riba dan perjudian.

“Sekarang masyarakat menghadapi dilema pragmatis. Banyak orang hanya mengejar kenikmatan sementara tanpa memikirkan apakah harta yang diperoleh itu halal dan berkah,” kata Arif saat dialog bersama RRI Jakarta, Kamis, 28 Mei 2026.

Ia menyoroti maraknya iklan pinjaman online dan berbagai platform judi online yang mudah ditemukan di media sosial maupun internet. Kondisi tersebut, kata dia, menjadi ancaman serius bagi ketahanan moral dan ekonomi masyarakat.

“Godaan menggunakan barang-barang yang mengandung riba dan judi itu sangat besar. Bahkan Indonesia menjadi salah satu negara dengan pengguna judi online terbesar di dunia. Ini perlu menjadi perhatian bersama,” katanya.

Dr. Arif menegaskan, dalam ekonomi syariah, keberkahan rezeki tidak hanya diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, tetapi juga dari cara memperolehnya dan manfaat yang diberikan kepada orang lain.

Ia menjelaskan bahwa Islam mengajarkan umat untuk mencari rezeki secara halal serta menghindari praktik yang merugikan diri sendiri maupun masyarakat.

“Harta yang berkah adalah harta yang diperoleh dengan cara yang baik dan dibagikan kepada sesama. Bukan harta yang diperoleh dari jalan yang dilarang,” ujarnya.

Selain itu, ia mengingatkan generasi muda agar tidak menjadikan kesuksesan finansial semata sebagai tujuan hidup. Menurutnya, bekerja dan mencari nafkah harus diniatkan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab kepada keluarga.

“Kita mencari rezeki bukan hanya untuk dunia, tetapi juga untuk akhirat. Jadi semua pekerjaan harus diniatkan sebagai ibadah,” katanya.

Sebagai pengurus MES Aceh Besar, Dr. Arif mengatakan pihaknya terus mendorong literasi ekonomi syariah di tengah masyarakat agar semakin memahami pentingnya transaksi yang halal dan bebas dari praktik riba maupun perjudian.

Ia juga mengajak masyarakat memperkuat pendidikan agama dan pengawasan keluarga agar tidak mudah terpengaruh oleh gaya hidup konsumtif serta budaya instan yang berkembang di era digital.

“Kita harus membentengi diri dan keluarga dengan pemahaman agama serta kesadaran bahwa keberkahan rezeki jauh lebih penting daripada sekadar keuntungan sesaat,” ucapnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....