Jakarta Berusia 499 Tahun, PR Lama Belum Tuntas
- 22 Jun 2026 13:14 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Jakarta mencatat pertumbuhan ekonomi 5,59 persen dan investasi Rp270 triliun pada triwulan I 2026.
- Pengamat menilai persoalan polusi udara, banjir, tata ruang, dan kemacetan masih menjadi tantangan utama menjelang usia lima abad Jakarta.
- Tokoh Betawi meminta komitmen pelestarian budaya diperkuat melalui regulasi turunan dari Perda Kebudayaan Betawi.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kota Jakarta genap berusia 499 tahun pada 22 Juni 2026. Di tengah perayaan menuju lima abad kota ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menampilkan capaian ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan layanan sosial. Namun di balik acara seremonial tersebut, sejumlah persoalan klasik seperti polusi udara, banjir, tata ruang, transportasi, hingga pelestarian budaya Betawi menurut pengamat masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

Dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun atau HUT ke-499 Kota Jakarta di Silang Selatan Monas, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa Jakarta berada di gerbang menuju lima abad perjalanan sejarahnya.
"Hari ini, di usia 499 tahun, Jakarta berada di gerbang menuju lima abad. Sebuah perjalanan yang mengajak kita menoleh sejenak kepada masa lalu, melihat sejauh mana kita telah melangkah, sekaligus menatap masa depan Jakarta dengan penuh harapan dan keyakinan," ujar Pramono saat memberikan kata sambutan di depan tamu undangan upacara yang ditayangkan langsung akun You Tube @dkijakarta pada Senin, 22 Juni 2026.

Pramono memaparkan sejumlah capaian yang menjadi modal Jakarta memasuki era baru. Menurut dia, inflasi Jakarta sepanjang 2025 tetap terkendali di angka 2,45 persen.
Ia juga menyebut realisasi investasi Jakarta mencapai Rp270 triliun pada triwulan pertama 2026. Sementara pertumbuhan ekonomi Jakarta tercatat sebesar 5,59 persen dengan kontribusi 16,67 persen terhadap perekonomian nasional.
Data tersebut menjadi dasar optimisme pemerintah daerah bahwa Jakarta tetap menjadi jangkar stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Namun, capaian ekonomi itu tidak serta merta menghapus berbagai persoalan yang masih dirasakan warga.

Pengamat kebijakan publik dari Forum Warga Kota atau FAKTA Indonesia, Tubagus Haryo Karbianto, menilai ulang tahun Jakarta semestinya tidak hanya menjadi ajang seremonial. Menurut dia, momentum ini harus menjadi ruang evaluasi terhadap berbagai pekerjaan rumah atau PR yang belum terselesaikan.
"Persoalan klasik masih tetap menjadi persoalan. Apalagi sekarang dengan isu climate change," ucap Tubagus dalam wawancara di Radio 91,2 FM Pro1 RRI Jakarta pada Senin, 22 Juni 2026.
Dalam wawancara pagi itu, Tubagus Haryo menyoroti kualitas udara Jakarta yang hingga kini masih sering mendapat rapor merah. Menurut dia, pengendalian pencemaran udara yang sudah memiliki dasar regulasi sejak lama belum menunjukkan hasil optimal.
Selain polusi udara, banjir dan rob juga masih menjadi ancaman yang terus menghantui sebagian wilayah Jakarta, terutama kawasan pesisir utara. Fenomena perubahan iklim diperkirakan akan memperbesar tantangan tersebut pada masa mendatang.
Pramono sendiri mengakui ancaman perubahan iklim menjadi salah satu perhatian utama pemerintah daerah. Ia mengatakan fenomena El Nino berpotensi memicu kemarau ekstrem yang berdampak pada ketahanan pangan, ketersediaan air bersih, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Karena itu, pemerintah memperluas ruang terbuka hijau, memperkuat daerah resapan, mengembangkan urban farming, serta melanjutkan program pengendalian banjir sebagai langkah mitigasi.
Di sektor transportasi, Jakarta juga menunjukkan kemajuan signifikan melalui integrasi berbagai moda angkutan massal. Pemerintah sedang menyiapkan pengoperasian LRT Fase 1B Velodrome-Manggarai, melanjutkan pembangunan MRT Fase 2A, serta menyelesaikan pedestrian deck kawasan TOD Dukuh Atas.
Meski demikian, Tubagus menilai kemacetan masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Menurut dia, berbagai kebijakan strategis seperti Electronic Road Pricing (ERP), penguatan park and ride, hingga pengendalian kendaraan pribadi belum berjalan maksimal.
"Ada MRT, ada LRT, ada JakLingko, ada TransJakarta, tapi macet tetap ada saja," kata Tubagus.
Ia menilai Jakarta perlu lebih berani mendorong penggunaan transportasi publik melalui kebijakan yang memberi insentif lebih besar kepada masyarakat.
Selain persoalan lingkungan dan transportasi, isu tata ruang juga menjadi perhatian. Saat ini Jakarta telah memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2022-2042 yang menjadi arah pembangunan jangka panjang kota.
Tubagus mempertanyakan orientasi pembangunan tersebut. Menurut dia, Jakarta perlu memastikan bahwa transformasi menuju kota global tetap berpihak kepada warga dan tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik.
"Sepuluh tahun lagi Jakarta buat siapa sih?" ujar dia.
Menurut Tubagus, konsep kota global tidak dapat diwujudkan apabila Jakarta berjalan sendiri tanpa memperkuat kerja sama dengan wilayah penyangga di Jabodetabek. Persoalan sampah, transportasi, hingga pengelolaan sungai memerlukan pendekatan lintas daerah.
Ia menilai aglomerasi menjadi kunci agar Jakarta mampu berkembang sebagai kota global yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Sementara itu, dari perspektif budaya, Sekretaris Jenderal Bamus Betawi Tahyudin Aditya mengingatkan bahwa Jakarta tidak boleh kehilangan identitas saat bertransformasi menjadi kota global.
"Tidak mungkin menjadi kota besar, kota yang mengglobal, menuju era baru, dengan meninggalkan adat istiadat tradisi masyarakat inti Jakarta," ujar Tahyudin.
Menurut dia, masyarakat Betawi harus tetap menjadi bagian utama dalam pembangunan Jakarta. Ia menilai komitmen Gubernur Pramono terhadap pelestarian budaya Betawi sudah mulai terlihat, meskipun implementasinya masih memerlukan penguatan regulasi.
Tahyudin menyoroti belum terbitnya sejumlah aturan turunan dari Peraturan Daerah atau Perda tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi. Padahal, regulasi tersebut dinilai penting untuk memastikan pelaksanaan program berjalan lebih efektif.
"Kita pengen beliau membuat Pergub-Pergubnya, karena baru Perda. Perda perlu turunan," ucapnya.
Menjelang usia lima abad Jakarta pada 2027, pemerintah daerah juga menggelar berbagai kegiatan untuk memperkuat partisipasi publik. Berdasarkan kalender kegiatan resmi Jakarta.go.id, rangkaian HUT ke-499 Jakarta diisi oleh Festival Jakarta Great Sale, Jakarta Fair Kemayoran, Jakarta Future Festival, Jakarnaval 2026, Festival Muharram 1448 Hijriah, hingga program Bakti Kesehatan 5 Abad Jakarta.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....