Makna Iduladha Menurut Rektor UINKHAS Jember, Prof Hepni

  • 28 Mei 2026 14:42 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UINKHAS) Jember, Prof. Hepni Zain memaknai Hari Raya Idul Adha atau yang disebut Idul Kurban sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

"Kurban sendiri punya arti dekat. Jadi, upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara terlebih dulu akrab dengan makhluk Allah," ujar Prof Hepni saat menjadi Imam sekaligus Khatib shalat Iduladha di Polres Jember, Rabu, 27 Mei 2026.

Menurutnya, Hari Raya Idul Kurban punya tiga pesan penting. Pertama adalah, menempatkan kehendak Allah di atas segalanya. Seperti Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan putra tercintanya Ismail, atas perintah Allah.

"Kisah tentang perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra tercintanya Ismail adalah lambang pemaknaan terbesar bahwa kendati anak yang paling kita sayangi, kita korbankan," ucapnya.

Pesan kedua bahwa dalam kurban ada nilai-nilai kemanusiaan. Allah tidak butuh darah atau daging kurban. Yang dibutuhkan adalah ketakwaannya. Salah satu tanda ketakwaan yakni dermawan, peka terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

"Jadi, semakin kita dermawan, semakin peka merasakan nilai-nilai sosial untuk berbagi, maka semakin takwa kita. Itu pesan kedua ya, tentang ajaran kemanusiaan," bebernya.

Pesan yang ketiga, adalah melakukan usaha maksimal hingga menghasilkan keajaiban. Ketika Siti Hajar bersama Ismai bayi dihijrahkan ke satu tempat yang tidak ada kehidupan dan tidak ada jaminan keamanan, maka itu bentuk tawakal tingkat tinggi.

"Jadi, jalani perintah Allah. Kita ditaruh dimana saja, di posisi apa saja, itu akan berakhir dengan baik saat kita menerimanya," kata pria asal Madura ini.

Keajaiban muncul, ketika Siti Hajar kehabisan bekal, sementara Ismail kecil menjerit, menangis kehausan, lalu Siti Hajar berlari kecil antara Bukit Safha dan Marwah yang sekarang menjadi ajaran Sa'i dalam ibadah haji.

"Sebuah perjuangan untuk menenangkan Ismail bayi, yang menjerit kehausan, sementara air susu Siti Hajar kering. Tak disangka-sangka hentakan kaki Ismail mengeluarkan mata air yang dinamai zam-zam. Artinya, untuk mendapatkan sesuatu keajaiban, berusaha keras dulu," ungkapnya.

Tga pesan besar ini sangat penting di tengah kehidupan yang semakin beragam, dimana tuntutan kemanusiaan semakin hari semakin tergerus. Maka tiga pesan tersebut dapat menjadi penyeimbang dalam kehidupan untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.

Hari ini, sosok Ibrahim baru sangat dibutuhkan, yang menempatkan kehendak Allah di atas segalanya. Pun sosok Siti Hajar baru yang berusaha maksimal. Tidak hanya kerja keras, kerja cerdas, tapi juga kerja tuntas.

"Kita juga merindukan Ismail baru, sosok anak shalih yang sangat berbakti terhadap orang tuanya. Kalau itu perintah Allah, maka dia korbankan," imbuhnya.

Hidup ini ada dua, yakni hidup biasa dan luar biasa. Hidup biasa adalah kehidupan seperti kaum awam dan hidup luar biasa yakni berusaha keras sampai batas maksimal hingga muncul pertolongan dari Allah SWT.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....