Periksa Hewan Kurban, UB Terjunkan Mahasiswa dan Dosen ke Sejumlah Daerah
- 25 Mei 2026 15:16 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (FKH UB) menerjunkan 960 mahasiswa dan 41 dosen ke berbagai daerah di Indonesia untuk membantu pemeriksaan kesehatan hewan kurban menjelang Iduladha 2026. Tim diterjunkan tidak hanya di wilayah Malang Raya, tetapi juga ke sejumlah daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Bali.
Ketua Pengabdian Masyarakat Pemeriksaan Hewan Kurban FKH UB 2026, drh. Yulinar Risky Karaman, M.Biomed. mengatakan, di
wilayah Kota Malang, sekitar 400 mahasiswa dan 15 dosen diterjunkan untuk membantu pemeriksaan hewan kurban di berbagai titik. Sementara di Kabupaten Malang terdapat sekitar 100 mahasiswa dan lima dosen, sedangkan di Kota Batu sekitar 300 mahasiswa bersama empat hingga lima dosen.
“Selain Malang Raya, tim juga diterjunkan ke sejumlah daerah lain seperti Sidoarjo, Lamongan, Mojokerto, hingga wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Bali. Sebagian mahasiswa tersebut merupakan mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan di luar kampus,” katanya, Senin (25/5/2026).
Menurut Yulinar, keberadaan tim pemeriksa hewan kurban bertujuan memastikan hewan yang disembelih memenuhi syarat kesehatan dan layak dikonsumsi masyarakat. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan antemortem dan postmortem.
Menurutnya, keterlibatan Fakultas Kedokteran Hewan UB juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan masyarakat melalui pengawasan hewan kurban dan pencegahan penyakit menular.
“Fakultas Kedokteran Hewan memiliki tugas dan fungsi untuk menjaga agar masyarakat terhindar dari penyakit-penyakit menular dari hewan kurban. Selain itu kesejahteraan hewan juga harus diperhatikan,” katanya.
Prof. Widodo mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dan dosen FKH UB yang bekerja sama dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah di berbagai wilayah Jawa Timur.
“Saya senang sekali dekan dan tim menerjunkan mahasiswa serta dosen untuk bekerja sama dengan provinsi, kabupaten, dan kota agar pelaksanaan kurban ini menjadi lebih baik dan lebih khidmat,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatan langsung mahasiswa dan dosen di tengah masyarakat juga menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat sekaligus menjadi sarana pembelajaran lapangan bagi mahasiswa.
“Ini menjadi bagian penting bahwa perguruan tinggi memiliki manfaat langsung kepada masyarakat dan juga menjadi living laboratory bagi universitas,” pungkasnya.
Ketua Pengabdian Masyarakat Pemeriksaan Hewan Kurban FKH UB 2026, drh. Yulinar Risky Karaman, M.Biomed. mengatakan, di
wilayah Kota Malang, sekitar 400 mahasiswa dan 15 dosen diterjunkan untuk membantu pemeriksaan hewan kurban di berbagai titik. Sementara di Kabupaten Malang terdapat sekitar 100 mahasiswa dan lima dosen, sedangkan di Kota Batu sekitar 300 mahasiswa bersama empat hingga lima dosen.
“Selain Malang Raya, tim juga diterjunkan ke sejumlah daerah lain seperti Sidoarjo, Lamongan, Mojokerto, hingga wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Bali. Sebagian mahasiswa tersebut merupakan mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan di luar kampus,” katanya, Senin (25/5/2026).
Menurut Yulinar, keberadaan tim pemeriksa hewan kurban bertujuan memastikan hewan yang disembelih memenuhi syarat kesehatan dan layak dikonsumsi masyarakat. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan antemortem dan postmortem.
“Pemeriksaan antemortem dilakukan sebelum hewan disembelih untuk memastikan kondisi kesehatan hewan, kelayakan umur, serta memastikan tidak terdapat cacat pada hewan kurban,” ujar drh. Yulinar.
Sementara pemeriksaan postmortem dilakukan setelah penyembelihan dengan memeriksa organ-organ dalam hewan kurban guna memastikan daging aman dikonsumsi.
Yulinar menjelaskan, salah satu temuan yang paling sering dijumpai dalam pemeriksaan hewan kurban adalah kasus cacing hati pada sapi. Selain itu, petugas juga mewaspadai penyakit seperti Lumpy Skin Disease (LSD) dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
“Yang paling sering ditemukan dari tahun ke tahun adalah cacing hati, terutama pada sapi. Selain itu kami juga memeriksa kemungkinan adanya LSD dan PMK,” ungkapnya.
Apabila ditemukan hewan yang tidak memenuhi syarat kurban atau daging yang tidak layak konsumsi, tim akan memberikan rekomendasi kepada panitia masjid maupun petugas dinas terkait.
“Pada tahun-tahun sebelumnya, pernah ditemukan hewan kurban yang belum cukup umur dan hewan dengan cacat fisik sehingga direkomendasikan untuk ditukar,” kata dia.
Dalam pelaksanaannya, pola pemeriksaan di setiap daerah berbeda-beda. Di Kota Malang, tim FKH UB bergerak secara mobile bersama petugas dinas dan mendatangi banyak masjid dalam satu hari. Satu kelompok bahkan bisa memeriksa lebih dari 10 hingga 15 lokasi penyembelihan.
“Kalau di Kota Malang sistemnya jemput bola karena titiknya banyak. Satu kelompok bisa keliling lebih dari 10 masjid dalam sehari,” ujarnya.
Sementara di beberapa daerah lain seperti Kota Batu dan Sidoarjo, petugas lebih difokuskan pada satu atau dua lokasi agar pemeriksaan dapat dilakukan lebih intensif dan detail.
“Melalui pengabdian masyarakat ini, harapannya dapat membantu masyarakat memperoleh daging kurban yang aman, sehat, utuh, dan halal sekaligus menjadi bentuk pengabdian kampus kepada masyarakat di bidang kesehatan hewan dan keamanan pangan,” kata dia.
Yulinar menjelaskan, salah satu temuan yang paling sering dijumpai dalam pemeriksaan hewan kurban adalah kasus cacing hati pada sapi. Selain itu, petugas juga mewaspadai penyakit seperti Lumpy Skin Disease (LSD) dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
“Yang paling sering ditemukan dari tahun ke tahun adalah cacing hati, terutama pada sapi. Selain itu kami juga memeriksa kemungkinan adanya LSD dan PMK,” ungkapnya.
Apabila ditemukan hewan yang tidak memenuhi syarat kurban atau daging yang tidak layak konsumsi, tim akan memberikan rekomendasi kepada panitia masjid maupun petugas dinas terkait.
“Pada tahun-tahun sebelumnya, pernah ditemukan hewan kurban yang belum cukup umur dan hewan dengan cacat fisik sehingga direkomendasikan untuk ditukar,” kata dia.
Dalam pelaksanaannya, pola pemeriksaan di setiap daerah berbeda-beda. Di Kota Malang, tim FKH UB bergerak secara mobile bersama petugas dinas dan mendatangi banyak masjid dalam satu hari. Satu kelompok bahkan bisa memeriksa lebih dari 10 hingga 15 lokasi penyembelihan.
“Kalau di Kota Malang sistemnya jemput bola karena titiknya banyak. Satu kelompok bisa keliling lebih dari 10 masjid dalam sehari,” ujarnya.
Sementara di beberapa daerah lain seperti Kota Batu dan Sidoarjo, petugas lebih difokuskan pada satu atau dua lokasi agar pemeriksaan dapat dilakukan lebih intensif dan detail.
“Melalui pengabdian masyarakat ini, harapannya dapat membantu masyarakat memperoleh daging kurban yang aman, sehat, utuh, dan halal sekaligus menjadi bentuk pengabdian kampus kepada masyarakat di bidang kesehatan hewan dan keamanan pangan,” kata dia.
Rektor UB, Prof. Widodo menyampaikan bahwa pelaksanaan Iduladha dan kurban merupakan perayaan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi.
“Pelaksanaan Hari Raya Iduladha dan kurban ini adalah perayaan kita semua, sehingga semua orang juga terlibat. Baik mahasiswa, masyarakat luas, maupun perguruan tinggi untuk membantu agar pelaksanaan kurban menjadi lebih baik dan lebih khidmat,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan Fakultas Kedokteran Hewan UB juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan masyarakat melalui pengawasan hewan kurban dan pencegahan penyakit menular.
“Fakultas Kedokteran Hewan memiliki tugas dan fungsi untuk menjaga agar masyarakat terhindar dari penyakit-penyakit menular dari hewan kurban. Selain itu kesejahteraan hewan juga harus diperhatikan,” katanya.
Prof. Widodo mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dan dosen FKH UB yang bekerja sama dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah di berbagai wilayah Jawa Timur.
“Saya senang sekali dekan dan tim menerjunkan mahasiswa serta dosen untuk bekerja sama dengan provinsi, kabupaten, dan kota agar pelaksanaan kurban ini menjadi lebih baik dan lebih khidmat,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatan langsung mahasiswa dan dosen di tengah masyarakat juga menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat sekaligus menjadi sarana pembelajaran lapangan bagi mahasiswa.
“Ini menjadi bagian penting bahwa perguruan tinggi memiliki manfaat langsung kepada masyarakat dan juga menjadi living laboratory bagi universitas,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....