Literasi Politik Rendah, Bawaslu Manggarai Barat Soroti Ancaman Hoaks
- 20 Mei 2026 15:55 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Rendahnya literasi politik masyarakat masih menjadi tantangan utama dalam membangun demokrasi yang sehat di Kabupaten Manggarai Barat. Kondisi tersebut dinilai membuat masyarakat rentan terhadap hoaks, politik uang, hingga praktik manipulasi informasi di media sosial.
Ketua Bawaslu Kabupaten Manggarai Barat, Maria Magdalena S. Sering, mengatakan literasi politik, literasi kepemiluan, dan literasi digital masyarakat masih perlu diperkuat. Menurutnya, lemahnya pemahaman politik menyebabkan warga mudah diarahkan dan sulit menilai kualitas kandidat secara rasional.
“Ketika masyarakat tidak terliterasi dengan baik, suara mereka mudah dibeli dan mudah percaya pada hoaks,” katanya dalam dialog di Pro 1 RRI Ende, Sabtu 9 Mei 2026.
Ia menjelaskan, praktik politik uang masih menjadi persoalan serius yang ditemukan hampir di setiap momentum pemilu. Banyak masyarakat masih memandang pemilu sebatas proses memilih di TPS tanpa memahami dampak jangka panjang dari keputusan politik yang diambil.
Leny menilai politik uang menjadi pintu masuk lahirnya pejabat korup. Menurutnya, masyarakat sering tidak sadar bahwa menerima uang atau bantuan menjelang pemilu sama dengan menggadaikan masa depan daerah dan generasi berikutnya.
Ia mencontohkan nominal uang yang diterima masyarakat saat pemilu sebenarnya tidak sebanding dengan dampak lima tahun kepemimpinan yang dihasilkan. Karena itu, edukasi politik perlu dilakukan secara terus-menerus agar masyarakat lebih kritis terhadap praktik transaksional.
Selain politik uang, perkembangan media sosial juga dinilai menjadi tantangan baru dalam demokrasi. Arus informasi yang cepat membuat masyarakat rentan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Untuk menghadapi situasi itu, Bawaslu Kabupaten Manggarai Barat mendorong perempuan menjadi agen literasi digital di lingkungan keluarga. Perempuan dianggap memiliki pengaruh besar dalam membentuk pola pikir anak dan anggota keluarga lainnya.
Menurut Leny, perempuan tidak hanya berperan sebagai pengguna media sosial, tetapi juga pendidik pertama dalam keluarga. Karena itu, perempuan diharapkan mampu mengajarkan etika bermedia sosial dan membiasakan anggota keluarga menyaring informasi sebelum membagikannya.
Bawaslu juga mengingatkan pentingnya keberanian masyarakat untuk melaporkan pelanggaran pemilu. Selama ini, masih banyak warga yang memilih diam karena takut menghadapi tekanan atau ancaman dari pihak tertentu.
Leny berharap peningkatan literasi politik dan digital dapat menciptakan masyarakat yang lebih sadar demokrasi. Ia menegaskan kualitas demokrasi tidak hanya diukur dari tingginya partisipasi pemilih, tetapi juga dari kualitas keterlibatan masyarakat dalam menjaga proses demokrasi yang jujur dan adil.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....