TPST Kebon Talo Mulai Dibangun Juni, Mataram Target Kurangi Krisis Sampah

  • 13 Mei 2026 12:04 WIB
  •  Mataram

RI.CO.ID.Mataram- Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram memastikan pembangunan fasilitas pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) di TPST Kebon Talo, Kecamatan Ampenan, mulai dikerjakan pada Juni 2026. Proyek senilai Rp97 miliar tersebut diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kepala DLH Kota Mataram,H.Nizar Denny Cahyadi, mengatakan proses tender proyek ditargetkan rampung pada 29 Mei 2026, sementara pekerjaan fisik dijadwalkan mulai berjalan pada 9 Juni 2026.

“Proses tender selesai sekitar 29 Mei, kemudian pembangunan fisiknya dimulai 9 Juni 2026,” ujarnya Rabu 13 Mei 2026.

Ia menjelaskan, fasilitas RDF di TPST Kebon Talo nantinya mengolah sampah rumah tangga dan komersial melalui proses pemilahan, pencacahan, hingga pengeringan. Sampah yang telah dikeringkan kemudian diolah menjadi bahan bakar alternatif atau RDF yang dapat dimanfaatkan industri, termasuk dijual ke PLN sebagai substitusi bahan bakar.

“Jadi sampah itu dikeringkan dan diproses menjadi RDF. Nantinya hasilnya bisa dijual ke PLN sebagai bahan bakar alternatif,” katanya.

Menurutnya proyek tersebut mendapat dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan menjadi bagian dari strategi besar Pemkot Mataram dalam menekan volume sampah harian yang dibuang ke TPA regional Kebon Kongok.

Fasilitas RDF Kebon Talo diperkirakan memiliki kapasitas pengolahan sekitar 60 hingga 70 ton sampah per hari. Selain itu, Kota Mataram juga mengandalkan fasilitas pengolahan lain seperti TPST Sandubaya yang mampu menangani sekitar 45 ton sampah per hari serta fasilitas pengolahan tambahan yang diperkirakan mampu mengurangi sekitar 20 ton sampah.

Tidak hanya mengandalkan fasilitas skala besar, DLH juga mulai membangun pengolahan sampah organik di tingkat lingkungan untuk mengurangi timbulan sampah dari sumbernya. Program tersebut diperkirakan mampu mengurangi sekitar 10 ton sampah organik per hari.

“Kalau semuanya berjalan, pengurangan sampah bisa mencapai sekitar 150 ton per hari. Sisanya baru dibuang ke TPA, dan itu terus kita cari solusi agar semakin berkurang,” jelasnya Denny sapaan akrabnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....