Stok Kurban Samarinda Aman meski Harga Sapi Alami Kenaikan
- 13 Mei 2026 10:49 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Samarinda memastikan ketersediaan hewan kurban menjelang Iduladha 2026 dalam kondisi aman. Pasokan sapi yang terus berdatangan dari luar daerah dinilai mampu memenuhi permintaan masyarakat Kota Samarinda yang mengalami tren peningkatan setiap tahun.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Samarinda, Maskuri, mengatakan arus masuk sapi dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, masih berlangsung hingga akhir Mei 2026. Kapal pengangkut sapi dijadwalkan terus masuk melalui jalur distribusi ke Samarinda untuk menjaga kestabilan stok menjelang puncak permintaan kurban.
“Stok sapi, kita cukup aman bahkan sangat aman. Sampai tanggal 23 masih ada jadwal kapal sapi dari Kupang yang masuk ke Samarinda,” katanya saat ditemui di Kantor DKPP Samarinda, Jalan Biola, Sungai Pinang Luar, Rabu 13 Mei 2026.
Menurutnya, sejak Februari 2026 tercatat sekitar 15.200 ekor sapi masuk melalui Samarinda. Meski tidak seluruhnya diperuntukkan bagi keperluan lokal, hewan tersebut tetap dipasarkan melalui pasar hewan Samarinda di kawasan Tanah Merah sebelum didistribusikan ke sejumlah daerah lain di Kalimantan Timur.
Selain dari Kupang, pasokan sapi juga berasal dari Sulawesi melalui jalur kapal kargo dan ferry. Jumlah pengiriman dari Sulawesi diperkirakan mencapai 5.000 hingga 6.000 ekor sapi. Sementara pasokan dari Pulau Jawa relatif terbatas karena harga sapi berbobot besar dinilai lebih mahal dibandingkan sapi dari wilayah timur Indonesia.
“Mayoritas memang dari Kupang dan Sulawesi. Ada juga dari Jawa, tapi jumlahnya kecil karena sapi dari Jawa rata-rata berbobot besar dengan harga yang cukup tinggi,” ujarnya.
Ketersediaan stok hewan kurban menjadi perhatian penting pemerintah daerah mengingat kebutuhan masyarakat Samarinda terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data DKPP Samarinda, kebutuhan sapi kurban selama dua tahun terakhir berada di kisaran 5.700 ekor. Sementara kebutuhan kambing dan domba mencapai sekitar 3.000 ekor.
Pada Iduladha 2025 lalu, total serapan hewan kurban di Samarinda bahkan mencapai sekitar 11 ribu ekor. Angka tersebut mencerminkan meningkatnya kemampuan dan partisipasi masyarakat dalam berkurban pascapemulihan ekonomi daerah.
“Artinya tren kebutuhan kurban terus naik. Kalau melihat stok yang ada sekarang, kebutuhan masyarakat insyaallah masih bisa terpenuhi,” ucapnya.
Di tengah kondisi stok yang aman, masyarakat dihadapkan pada kenaikan harga sapi kurban tahun ini. DKPP Samarinda mencatat kenaikan harga dipicu meningkatnya biaya transportasi dan harga beli sapi di daerah asal, khususnya Kupang.
Saat ini harga sapi hidup di tingkat konsumen berada di kisaran Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram berat hidup. Dengan rentang harga tersebut, satu ekor sapi dijual mulai Rp18 juta hingga Rp35 juta tergantung ukuran dan bobot hewan.
Maskuri menjelaskan, pada kondisi normal harga sapi hidup biasanya berada di kisaran Rp52 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram. Namun saat ini harga di tingkat peternak daerah asal sudah mencapai Rp65 ribu per kilogram sehingga berdampak langsung pada harga jual di Samarinda.
“Kalau hari biasa itu sekitar Rp52 ribu sampai Rp55 ribu per kilogram hidup. Sekarang di Kupang saja sudah Rp65 ribu per kilogram hidup, jadi otomatis di Samarinda ikut naik,” katanya.
Kenaikan harga hewan kurban menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga memberikan peluang ekonomi bagi peternak lokal Samarinda yang ikut memasok kebutuhan Iduladha.
DKPP Samarinda mencatat saat ini terdapat sekitar 3.000 ekor sapi lokal yang dipelihara peternak melalui sistem penggemukan. Sapi-sapi tersebut disiapkan khusus untuk memenuhi permintaan kurban masyarakat Samarinda dan sekitarnya.
Selain menjaga ketersediaan stok, keberadaan peternak lokal juga dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah. Pemerintah daerah juga terus mendorong pengembangan usaha peternakan lokal agar mampu bersaing dari sisi kualitas maupun kuantitas.
“Kalau tidak terserap untuk kurban, biasanya masuk ke rumah potong hewan atau dipelihara lagi untuk tahun berikutnya,” katanya mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....