Warga Biak Numfor Keluhkan Lonjakan Harga LPG
- 20 Apr 2026 12:46 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak – Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga LPG nonsubsidi. Berdasarkan informasi dari laman resminya, untuk ukuran 12 kilogram, harga terbaru ditetapkan menjadi Rp228 ribu per tabung, naik dari sebelumnya Rp192 ribu. Kenaikan ini setara sekitar 18,75 persen dan menjadi penyesuaian pertama sejak tahun 2023. Kebijakan tersebut mulai diberlakukan sejak 18 April 2026 di sejumlah wilayah di Indonesia.
Adapun di Kabupaten Biak Numfor, harga LPG nonsubsidi di tingkat agen tercatat lebih tinggi. Untuk tabung 12 kilogram saat ini dijual sekitar Rp390 ribu, sementara Bright Gas ukuran 5,5 kilogram berada di kisaran Rp182 ribu per tabung.
Kondisi tersebut menuai keluhan dari masyarakat, baik rumah tangga maupun pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada LPG untuk kebutuhan sehari-hari.
Seorang kepala rumah tangga Armawan, mengungkapkan bahwa kenaikan harga LPG sangat berdampak pada pengeluaran masyarakat. Ia berharap pemerintah dapat menjaga kestabilan harga serta memastikan distribusi gas berjalan lancar.
“Dengan kenaikan harga dari tabung gas non-subsidi ini, tentunya sangat berdampak bagi masyarakat maupun usaha kecil dan juga rumah tangga yang bergantung pada gas untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan harganya yang semakin tinggi, otomatis biaya operasional akan meningkat dan akan mempengaruhi harga jual maupun daya beli masyarakat,” ujarnya pada Senin 20 April 2026.
Senada dengan itu, Irma Vilanda, seorang ibu rumah tangga, mengaku terkejut dengan kenaikan harga LPG. Keluhan juga datang dari pelaku usaha rumahan. Syamsiah, mengaku kesulitan mendapatkan LPG.
“Dengan harga yang makin meningkat agak membuat shock. Kami menggunakan tabung 12 kilo untuk kebutuhan sebulan, artinya kami harus menyediakan dana lebih lagi setiap bulan untuk membeli gas,” ucap Irma
“Gas LPG sekarang sudah susah, seperti kami penjual kue kadang tidak dapat memenuhi permintaan karena tidak ada gas,” ucap Syamsiah
Sementara itu, Andri, pedagang ayam goreng, berharap pemerintah dapat mengontrol harga LPG. Pedagang lainnya, Bela, menilai kenaikan harga LPG berdampak pada biaya hidup masyarakat.
“Harapan saya sebagai pedagang, pemerintah bisa menekan kembali harga gas seperti sebelumnya, karena LPG ini kebutuhan utama untuk usaha kami setiap hari,” ujar Andri
“Jujur saja berat, karena ini kebutuhan sehari-hari. Apalagi bagi masyarakat kecil dan pedagang, otomatis biaya hidup naik dan harga makanan juga bisa ikut naik,harapannya di Papua ini bisa mendapat subsidi, karena kondisi di sini juga cukup sulit, termasuk lapangan pekerjaan,” ucap Bela
Sementara itu, Army, pedagang bakso, mengaku kenaikan harga LPG sangat terasa bagi pelaku UMKM. Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian kepada pelaku usaha kecil agar harga LPG lebih stabil
“Gas adalah kebutuhan utama kami untuk memasak setiap hari. Dengan adanya kenaikan, otomatis biaya operasional ikut bertambah. Kami masih berusaha mempertahankan harga jual, meskipun keuntungan menjadi lebih kecil,” ujarnya.
Untuk diketahui, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyatakan kenaikan tersebut dipicu dinamika geopolitik global. Ketegangan internasional dinilai berdampak langsung terhadap pasokan energi dunia.
Menurutnya, eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran turut memengaruhi stabilitas energi global. Kondisi ini berdampak pada terganggunya distribusi minyak di berbagai kawasan.
Salah satu faktor utama adalah terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur tersebut.
Selain itu, serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah juga memperburuk kondisi pasokan global. Hal ini kemudian berdampak pada kenaikan harga energi termasuk LPG di dalam negeri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....