Sekolah di Flores Timur Kembali Normal Pasca Gempa
- 16 Apr 2026 10:53 WIB
- Ende
Poin Utama
- Pembelajaran di Flores Timur sempat terganggu akibat trauma pascagempa.
- Kegiatan belajar kembali normal sejak Jumat setelah kejadian.
- Kerusakan sekolah tergolong ringan dan terjadi di Adonara Timur serta Solor Timur.
- Sebanyak 1.081 siswa terdampak gempa bumi.
- Pendampingan psikososial dan program SPAB diterapkan untuk pemulihan.
RRI.CO.ID, Flores Timur - Kegiatan belajar mengajar di Kabupaten Flores Timur berangsur kembali normal pasca gempa bumi berkekuatan 4,6 magnitudo yang terjadi pada Rabu malam, 8 April 2026. Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Flores Timur, Felix Suban Hoda, menyampaikan bahwa pada hari pertama pascagempa, proses pembelajaran sempat terhenti akibat trauma yang dialami siswa.
“Pada hari Kamis pembelajaran tidak diliburkan, tetapi sempat terhenti karena trauma siswa. Namun, sejak Jumat kegiatan belajar sudah mulai berjalan kembali,” ujarnya dalam siaran Pro 1 RRI Ende, Kamis, 16 April 2026.
Ia menjelaskan, secara umum kerusakan bangunan sekolah tergolong ringan dan tidak mengganggu aktivitas belajar secara signifikan. Kerusakan berupa retakan dinding terjadi di sejumlah sekolah di Kecamatan Adonara Timur dan Solor Timur.
Beberapa sekolah terdampak antara lain TK Alam Aliman dan SDN Terong di Desa Terong, serta sejumlah sekolah di Desa Lamahala seperti SDN 23 Lamahala, SD Inpres Lamahala, SMP Negeri 1 Adonara Timur, dan SMA Muhammadiyah. Sementara di Kecamatan Solor Timur, terdampak antara lain TK Alfajar, SDN Lamakera, dan SD Inpres Lewobuku.
“Total terdapat 1.081 peserta didik yang terdampak, namun kerusakan yang terjadi tidak berat dan sudah ditangani secara bertahap,” ucapnya. Felix menambahkan, perbaikan kerusakan ringan dilakukan oleh pihak sekolah dengan memanfaatkan dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) sesuai petunjuk teknis.
Selain itu, pihaknya juga telah mengaktifkan pendampingan psikososial bagi siswa dan guru guna mengatasi trauma pascagempa. Pendampingan dilakukan melalui integrasi dalam kegiatan pembelajaran serta dukungan dari organisasi seperti PKK dan Dharma Wanita.
Dalam menghadapi potensi bencana, sekolah juga telah menerapkan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), termasuk edukasi prosedur keselamatan seperti “drop, cover, and hold on”. Pemerintah daerah juga telah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat, namun penanganan dinilai masih dapat dilakukan di tingkat kabupaten karena kerusakan tergolong ringan.
Felix mengimbau seluruh pihak, termasuk orang tua dan masyarakat, untuk tetap mendukung proses pendidikan anak, terutama menjelang pelaksanaan ujian akhir tahun. “Dalam kondisi apa pun, pembelajaran harus tetap berjalan, baik di sekolah maupun di rumah,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....