BPBD Pastikan Kesiapan Hadapi Karhutla di Musim Kemarau

  • 14 Apr 2026 07:33 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur pada 2026 belum menunjukkan peningkatan signifikan, seiring masih tingginya curah hujan yang terjadi hingga April. Meski demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim menegaskan kesiapsiagaan tetap dilakukan karena karhutla bersifat tidak pasti.

Kepala BPBD Kalimantan Timur, Buyung Budi Purnomo, mengatakan kondisi hari tanpa hujan yang masih relatif pendek menjadi indikator rendahnya potensi kebakaran dalam waktu dekat.

“Kalau kita pantau, hari tanpa hujan masih sangat pendek, bahkan hampir setiap hari masih terjadi hujan. Ini cukup melegakan karena potensi karhutla masih relatif rendah,” katanya kepada rri.co.id Selasa 14 April 2026.

Ia menegaskan, karhutla tidak dapat diprediksi secara pasti karena dipengaruhi banyak faktor, termasuk aktivitas manusia. Namun, kondisi cuaca tetap menjadi indikator penting dalam membaca tingkat risiko.

Menurutnya, selama curah hujan masih tinggi, potensi lahan mengering dan mudah terbakar menjadi lebih kecil. Sebaliknya, risiko akan meningkat ketika memasuki periode kemarau dengan durasi hari tanpa hujan yang panjang.

BPBD Kaltim saat ini masih memfokuskan perhatian pada bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir, longsor, dan pohon tumbang, yang lebih dominan terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Meski demikian, langkah antisipasi karhutla tetap dilakukan melalui penguatan koordinasi lintas sektor. BPBD bekerja sama dengan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), Dinas Sosial, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam membangun kesiapsiagaan.

“Walaupun beda sektor, kami tetap berkoordinasi. Jika terjadi kebakaran dan dibutuhkan, tim kami siap bergerak,” ujarnya.

BPBD juga telah menetapkan status kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi, baik basah maupun kering, sebagai dasar mobilisasi sumber daya dan logistik jika terjadi kondisi darurat.

Selain itu, pemantauan cuaca terus dilakukan secara berkala melalui data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang disampaikan dalam laporan harian hingga bulanan kepada pemerintah daerah.

Berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau di Kalimantan Timur diperkirakan mulai terjadi pada Juni 2026, dengan potensi peningkatan risiko karhutla pada periode tersebut.

Buyung mengimbau seluruh pihak untuk tetap waspada dan tidak lengah, meskipun kondisi saat ini relatif aman dari ancaman kebakaran.

“Karhutla itu tidak bisa dipastikan kapan terjadi. Karena itu, kesiapsiagaan harus tetap dijaga sejak dini,” ucapnya.

BPBD Kaltim menekankan bahwa upaya pencegahan, termasuk pengawasan aktivitas pembakaran lahan dan edukasi masyarakat, menjadi kunci dalam menekan risiko karhutla di masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....