Dari Mimbar Id, Prof. Rahmat Soe’oed Pesankan Kejujuran Pemuda

  • 20 Mar 2026 08:45 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Pesan kuat untuk generasi muda disampaikan Imam sekaligus khatib Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah, Ustaz Prof. Rahmat Soe’oed, di GOR Kadrie Oening Sempaja, Samarinda, Jumat, 20 Maret 2026.

Guru Besar dan dosen senior Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mulawarman itu menekankan pentingnya peran pemuda sebagai calon pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berani menegakkan nilai kebenaran.

Menurutnya, pemuda harus memiliki keberanian untuk menjalankan nahi mungkar atau mencegah kemungkaran, meski dihadapkan pada berbagai tantangan dan tekanan zaman.

“Pemuda itu harus berani melakukan nahi mungkar. Jangan larut dalam kondisi yang tidak memungkinkan kita menjadi umat yang besar,” ujarnya.

Ia menyoroti fenomena yang terjadi di masyarakat, di mana banyak amanah besar yang tidak berjalan optimal karena tergoda kepentingan materi. Kondisi ini, menurutnya, menjadi tantangan serius bagi generasi muda dalam membangun masa depan bangsa.

Rahmat menyebut orientasi pada materi semata dapat merusak integritas dan menghambat seseorang dalam menjalankan tanggung jawabnya secara jujur dan profesional.

“Kalau pikiran hanya soal uang, maka yang lain tidak berjalan. Yang dipikirkan hanya kepentingan sesaat,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia mengajak generasi muda untuk peka terhadap realitas sosial yang terjadi saat ini, termasuk menurunnya keberanian dalam menyampaikan kebenaran. Ia menilai, kondisi tersebut menjadi ironi di tengah kehidupan masyarakat.

Menurutnya, saat ini mengatakan kebenaran justru sering diawali dengan rasa takut, bahkan harus didahului dengan permintaan maaf, seolah-olah kebenaran menjadi sesuatu yang sulit disampaikan secara terbuka.

“Sungguh aneh, biasanya kita minta maaf kalau salah. Tapi sekarang, mau jujur saja harus minta maaf dulu,” katanya.

Dalam bidang pendidikan, Rahmat juga menyoroti persoalan kejujuran yang mulai tergerus. Ia mengungkapkan kebiasaan menyontek hingga ketergantungan pada teknologi dalam menjawab soal menjadi tantangan tersendiri bagi kualitas generasi muda.

Menurutnya, kemajuan teknologi seperti penggunaan mesin pencari dan kecerdasan buatan memang membantu, namun tidak boleh menggantikan kemampuan berpikir kritis dan kejujuran.

Ia mengingatkan bahwa dunia pendidikan tidak hanya bertugas mencetak individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus melahirkan pribadi yang berintegritas.

“Kita bukan kekurangan orang pandai, tapi kekurangan orang pandai yang jujur,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menilai persoalan kejujuran ini berdampak luas terhadap pengelolaan sumber daya negara. Menurutnya, kekayaan alam yang melimpah belum sepenuhnya mampu menyejahterakan rakyat karena lemahnya integritas dalam pengelolaannya.

Ia pun berharap generasi muda dapat menjadi agen perubahan dengan menjunjung tinggi nilai kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian dalam menyuarakan kebenaran.

Momentum Idulfitri, menurutnya, menjadi titik refleksi untuk membangun karakter pemimpin masa depan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....