Made Selamet: Toleransi di Lombok Sudah Turun-Temurun
- 17 Mar 2026 09:32 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Kedekatan perayaan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri dinilai menjadi momentum penting untuk kembali menegaskan nilai toleransi yang telah lama hidup di tengah masyarakat Lombok. Anggota Komisi V DPRD NTB, Made Selamet, menyebut masyarakat di Pulau Lombok sejak dulu telah terbiasa hidup berdampingan dalam keberagaman.
Menurutnya, sejarah Lombok menunjukkan bahwa toleransi bukan hal baru, melainkan tradisi sosial yang sudah berlangsung turun-temurun. Hal ini dapat dilihat dari berbagai peninggalan sejarah dan kawasan multietnis di daerah tersebut.
“Kalau bicara toleransi, Lombok ini sebenarnya pusat toleransi. Kita bisa lihat dari sejarahnya, dari monumen-monumen yang ada,” kata Made Selamet, Selasa 17 Maret 2026 di Mataram.
Ia mencontohkan kawasan bersejarah seperti Taman Mayura yang menjadi simbol hubungan harmonis antara umat Hindu dan Muslim. Di kawasan tersebut terdapat unsur budaya yang mencerminkan kebersamaan kedua komunitas tersebut.
Selain itu, kawasan tua Ampenan juga menjadi bukti nyata kehidupan masyarakat yang multietnis. Di wilayah tersebut sejak dahulu berbagai kelompok etnis hidup berdampingan, mulai dari Banjar, Melayu, Tionghoa hingga Bali.
“Di Ampenan itu sejak dulu sudah banyak suku. Ada Banjar, Melayu, Cina, Bali. Semua berkumpul di sana dan hidup berdampingan,” ujarnya.
Politisi PDIP NTB ini juga menjelaskan, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Lombok sudah terbiasa menjaga keharmonisan tanpa harus menimbulkan gesekan antarumat beragama. Menurutnya, masyarakat telah memiliki kesadaran untuk saling menghormati.
Ia menilai situasi ketika Nyepi dan Idulfitri berdekatan seperti yang terjadi beberapa tahun terakhir juga bukan hal baru bagi masyarakat Lombok. Menurutnya, masyarakat sudah mampu mengatur diri dan menyesuaikan aktivitas agar kedua perayaan dapat berlangsung dengan baik.
“Sudah beberapa tahun kalendernya memang hampir sama. Tapi masyarakat kita sudah bisa mengatur. Selama ini tidak ada gesekan,” katanya.
Lebih jauh, ia menilai kedua perayaan tersebut sebenarnya memiliki makna spiritual yang serupa, yakni proses penyucian diri. Dalam ajaran Hindu, Hari Raya Nyepi dimaknai sebagai momentum pembersihan diri dan alam semesta, sementara Idulfitri bagi umat Islam juga menjadi momen kembali kepada kesucian setelah menjalani ibadah Ramadan.
“Kalau dilihat tujuannya sama. Nyepi itu pembersihan diri dan alam, sementara Lebaran juga pembersihan setelah Ramadan. Jadi sebenarnya maknanya hampir sama,” jelasnya.
Ia juga berpesan kepada generasi muda agar terus menjaga tradisi toleransi yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Menurutnya, nilai kebersamaan tersebut harus tetap dirawat di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi yang kerap memunculkan sekat-sekat sosial baru.
“Anak muda tinggal melanjutkan saja apa yang sudah diajarkan orang tua kita. Jangan sampai melupakan sejarah,” katanya.
Made Selamet menambahkan, peran tokoh agama dan tokoh masyarakat juga sangat penting dalam memperkuat nilai-nilai toleransi tersebut. Ia menegaskan bahwa penguatan moderasi beragama menjadi bagian penting dalam berbagai kegiatan keagamaan, khususnya di kalangan umat Hindu.
“Moderasi beragama selalu kami tekankan dalam setiap kegiatan. Ini sudah menjadi bagian dari upaya menjaga kerukunan,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....