DPRD: Longsor Bantargebang Alarm Perbaikan Pengelolaan Sampah Jakarta
- 10 Mar 2026 08:05 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau DPRD DKI Jakarta, Josephine Simanjuntak, menilai tragedi longsoran sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu atau TPST Bantargebang menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah Jakarta belum maksimal. Peristiwa yang menelan korban jiwa tersebut terjadi pada Minggu, 8 Maret 2026, setelah tumpukan sampah setinggi sekitar 40 meter dilaporkan longsor.
Longsoran sampah itu mengakibatkan enam orang meninggal dunia (data sementara Senin, 9 Maret 2026), dan sejumlah korban lainnya masih dalam proses pencarian. Selain para pekerja, beberapa kendaraan pengangkut sampah juga dilaporkan tertimbun material sampah di lokasi kejadian.
Josephine mengatakan peristiwa tersebut harus menjadi peringatan serius bagi semua pihak untuk memperbaiki tata kelola pengelolaan sampah Jakarta. “Peristiwa ini harus menjadi alarm bagi semua pihak untuk memperbaiki tata kelola pengelolaan sampah Jakarta secara serius,” ujar Josephine di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta, Senin, 9 Maret 2026.
Anggota Komisi C dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia atau PSI itu menjelaskan, Jakarta saat ini masih sangat bergantung pada Bantargebang sebagai tempat pembuangan akhir. Setiap hari sekitar 7.700 hingga 8.000 ton sampah dari Jakarta dikirim ke lokasi tersebut.
Menurutnya, tragedi di Bantargebang menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan kota. “Masalah sampah juga menyangkut keselamatan manusia dan keberlanjutan lingkungan,” ucapnya.
Dalam pandangan umum Fraksi Partai Solidaritas Indonesia pada Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta, pihaknya juga mendorong pemerintah daerah melakukan transformasi birokrasi perizinan lingkungan. Langkah tersebut dinilai penting agar pelayanan lebih cepat, namun tetap disertai pengawasan kuat di lapangan.
Josephine menambahkan pengelolaan sampah tidak boleh hanya berfokus pada pembuangan akhir. Pemerintah perlu memperkuat edukasi masyarakat untuk mengurangi sampah sejak dari sumber, termasuk melalui pemilahan sampah rumah tangga.
Ia juga menilai pengelolaan sampah dapat diarahkan menjadi kegiatan yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. “Tragedi di Bantargebang harus menjadi momentum untuk mempercepat reformasi sistem pengelolaan sampah Jakarta agar kejadian serupa tidak kembali terulang,” kata Josephine.
Data korban longsor TPST Bantargebang
Saat ini proses pencarian korban masih berlangsung di lokasi longsor. Dalam operasi pencarian hingga tadi malam, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan atau Basarnas DKI Jakarta kembali menemukan dua jasad korban yang tertimbun longsoran gunungan sampah. "Pukul 12.05 WIB satu korban atas nama Jussova Situmorang berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia," kata Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari dalam keterangannya di Jakarta, Senin dilansir kantor berita Antara.
Selanjutnya pada pukul 17.50 WIB Tim SAR gabungan kembali menemukan korban yang teridentifikasi bernama Hardianto dalam kondisi meninggal dunia di pinggir kali tertumpuk timbunan sampah.
"Keduanya langsung dibawa menuju RS Polri Kramat Jati untuk proses identifkasi," ujarnya.
Desiana menambahkan saat ini pihaknya masih terus melakukan pendataan jumlah korban berdasarkan keterangan saksi dan keluarga yang kehilangan keluarganya.
Berikut data terakhir korban longsoran sampah di TPST Bantargebang:
Jumlah Korban : 13 orang
Data Korban Selamat
- Budiman (L)
- Johan (L)
- Safifudin ( L)
- Slamet
- Ato
- Dofir
Data Korban Meninggal Dunia
- Enda Widayanti (P, 25) (pemilik warung)
- Sumine (P, 60) (pemilik warung)
- Dedi Sutrisno (L) (sopir truck)
- Irwan supriatin (L) (sopir Truk).
- Jussova Situmorang (P, 38)
- Hardianto
Data Korban dalam Pencarian
- Riki
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....