Dari Kota Bima, Wagub NTB Desak Reformasi Pengelolaan Sampah

  • 02 Mar 2026 10:01 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Kota Bima - Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Indah Dhamayanti Putri, meminta perubahan cara pandang dan cara kerja dalam pengelolaan sampah. Hal itu Ia tegaskan saat memimpin Apel Siaga Program Indonesia Asri dan NTB Asri Berkelanjutan di halaman Kantor Wali Kota Bima, Senin, 2 Maret 2026.

Apel di Kota Bima itu disebutnya sebagai momentum konsolidasi. Pemerintah daerah, dunia usaha, sekolah, pesantren, hingga komunitas masyarakat diminta bergerak serempak memperbaiki tata kelola sampah dan kualitas lingkungan hidup.

“Pengelolaan sampah tidak lagi dapat dilakukan dengan pola konvensional kumpul, angkut, buang, melainkan harus beralih pada sistem yang terintegrasi, dimulai dari hulu atau sumber sampah hingga ke tempat pemrosesan akhir,” ujar Wagub NTB.

Ia menyinggung fakta yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah provinsi. Dari sepuluh tempat pembuangan akhir (TPA) di NTB, baru sebagian yang menerapkan sistem terkontrol. Selebihnya masih membutuhkan penataan. Pola lama yang bertumpu pada pengumpulan dan pembuangan dinilai tak lagi memadai menghadapi volume sampah yang terus meningkat.

Di sisi lain, Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) NTB pada 2025 tercatat 77,4 kategori baik, tetapi belum memenuhi target nasional. Angka itu menjadi penanda bahwa kualitas udara, air, dan tutupan lahan masih perlu didorong.

“Parameter seperti kualitas udara, kualitas air, dan tutupan lahan menjadi fokus perbaikan melalui gerakan reboisasi dan penghijauan yang konsisten,” kata Dinda.

Menurut dia, Gerakan Indonesia Asri bukan sekadar agenda seremonial, melainkan upaya menghidupkan kembali budaya gotong royong sebagai kekuatan sosial. Sampah, katanya, harus diselesaikan dari sumbernya melalui pemilahan, pengurangan, dan pengolahan yang sistemik serta terukur.

Sebagai simbol komitmen, apel dirangkaikan dengan penanaman pohon pule di halaman kantor wali kota. Momentum Ramadan dipilih untuk memperkuat pesan moral tentang tanggung jawab bersama menjaga lingkungan.

“Penanaman pohon pule hari ini adalah simbol bahwa perubahan dimulai dari langkah kecil, tetapi harus dilakukan secara konsisten dan bersama-sama,” ujarnya.

Di tengah geliat pembangunan, Dinda mengingatkan bahwa fondasi kemajuan tetap bertumpu pada lingkungan yang sehat. Tanpa itu, pembangunan berisiko rapuh.

“Tanpa lingkungan yang sehat, pembangunan akan kehilangan pondasi. Karena itu, mari kita wujudkan NTB yang bersih, hijau, dan berkelanjutan untuk generasi mendatang,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....