Warga Dayurejo Prigen Kebanjiran Order Perabotan Rumah Tangga

  • 14 Feb 2026 15:08 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Pasuruan - Dari barang perabotan rumah tangga minimalis seperti cobek, ulekan dan sejenisnya, Ratna Dwi Purweni dan Mualimin, pasangan suami istri warga RT 7 RW 2 Dusun Klata'an, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan berhasil membangun bisnis dengan pasar yang sangat menjanjikan. Peralatan rumah tangga tersebut menjadi cemerlang berkat kelihaian tangan keduanya.

Sejak 11 tahun lalu, mereka berdua mencoba peruntungan dengan menyulap glondongan kayu menjadi perabotan rumah tangga yang setiap hari kita gunakan di dapur. Mulai cobek, ulekan, talenan, hingga spatula dan ratusan jenis perabotan lainnya.

Saat ditemui di gudang usahanya, Sabtu (14/2/2026), Ratna mengungkapkan, pada awal-awal usahanya dibangun, ia justru tak menyetujuinya. Lantaran keuntungan yang didapatkan dari penjualan barang-barang tersebut tak sebanyak seperti penjualan barang elektronik.

Namun berkat ketelatenan dan saran suaminya, akhirnya usaha yang ia rintis mulai dijalankan meski produk yang dibuatnya masih sedikit dan penjualannya juga masih ke pasar-pasar terdekat.

"Dulu rumah masih ngontrak, jadi produksinya hanya sotel, entong dan spatula saja dan jualnya juga hanya ke pasar-pasar sini saja," ungkapnya.

Dengan berbekal kegigihan mereka berdua, produk yang dilabeli "9 bintang" ini mulai menemukan pasarnya. Kata Ratna, banyak sales-sales produk yang datang kepadanya dan tertarik untuk menjualnya kembali.

"Karena kalau kata orang, produk kami punya ciri khas, yakni halus, unik dan harganya terjangkau," imbuhnya.

Saat ditanya seputar item produk yang dibuatnya, perempuan yang menjadi anggota Komunitas Perempuan Pengusaha Aktif dan Kreatif (KOMPPAK) Kabupaten Pasuruan ini menjelaskan ada 150 jenis perabotan rumah tangga yang diproduksi setiap harinya. Bahannya pun berasal dari 7 jenis pohon, diantaranya mahoni, glugu, pinus, trembesi, sonokeling, dan kayu jati.

Harganya pun bermacam-macam, mulai tiga ribu sampai puluhan ribu per buah.

"Centong buat ngambil nasi harganya paling murah tiga ribu. Kalau paling mahal tempat tisu atau tempat pisau, rata-rata 35 ribu sampai 45 ribu per buah. Tergantung ukurannya juga," imbuhnya.

Dalam sekali pengiriman, jumlah produk yang dijual mencapai antara 5 ribu sampai 15 ribu buah ke perusahaan yang sudah bekerja sama maupun pasar-pasar di berbagai daerah sekitar.

Dari yang awalnya diragukan, kini produk yang mereka buat laris di pasaran, Bahkan sampai ke seluruh penjuru nusantara dan merambah mancanegara

"Kita kirim produknya ke pabrik yang ada di Surabaya, dan kalaupun ada retur kita jual ke pasar-pasar," ucapnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....