Dokter RS Radjiman Imbau Waspada Virus Nipah

  • 11 Feb 2026 12:26 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Lawang - Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran Virus Nipah yang saat ini dilaporkan muncul di sejumlah negara Asia. Meski belum ditemukan kasus pada manusia di Indonesia, potensi penularan tetap perlu diantisipasi mengingat virus ini memiliki tingkat kematian yang tinggi.

Ketua Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi RS Radjiman Wedyodiningrat, dr. Antari Puspita Primananda, menjelaskan bahwa Virus Nipah termasuk penyakit zoonotik yang dapat menular dari hewan ke manusia maupun antar manusia. “Penularannya bisa melalui kelelawar, kuda, dan babi, serta kontak langsung cairan tubuh antar manusia,” ujarnya dalam Dialog Malang Menyapa edisi Rabu (11/2/2026).

Antari menerangkan, penularan dari hewan umumnya terjadi melalui konsumsi buah yang telah digigit kelelawar atau produk hewan yang tidak dimasak dengan matang. “Virus dapat berkembang biak pada hewan yang terinfeksi dan berpindah ke manusia melalui makanan yang terkontaminasi,” ucapnya.

Menurutnya, masa inkubasi Virus Nipah berkisar 4 hingga 14 hari, bahkan dalam teori dapat mencapai 45 hari. “Gejala awal menyerupai influenza seperti demam, batuk, pilek, nyeri otot, dan sakit kepala. Namun, yang membedakan adalah potensi gangguan sistem saraf seperti kejang dan penurunan kesadaran,” ungkapnya.

Antari menambahkan, virus ini dapat menyerang sistem pernapasan hingga menyebabkan gangguan berat seperti Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), serta menyerang otak. Tingkat kematian akibat Virus Nipah dilaporkan cukup tinggi, berkisar 40 hingga 75 persen, sehingga kewaspadaan menjadi hal yang penting.

Hingga saat ini, belum tersedia obat maupun vaksin khusus untuk Virus Nipah. Penanganan masih bersifat simptomatik atau berdasarkan gejala yang muncul. “Pengobatan dilakukan sesuai gejala, misalnya obat demam atau obat kejang, karena vaksin masih dalam tahap penelitian,” ujarnya.

“Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau tidak mengonsumsi nira atau aren langsung dari pohonnya, mencuci dan mengupas buah secara menyeluruh, serta menghindari konsumsi daging yang tidak matang. Selain itu, penerapan protokol kesehatan seperti mencuci tangan, menggunakan masker saat sakit, dan menjaga kebersihan diri tetap dianjurkan,” ucap Antari.

Meski Indonesia belum melaporkan kasus pada manusia, penelitian menemukan keberadaan virus pada kelelawar di wilayah Kalimantan. Karena Indonesia berada di kawasan Asia Tenggara yang berdekatan dengan negara terdampak, masyarakat diminta tetap waspada namun tidak panik, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mencurigakan. (Meuthia Adzkiya)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....