Iqbal: Teknologi Kunci Kebangkitan Pertanian NTB

  • 10 Feb 2026 14:24 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat - Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa kebangkitan sektor pertanian NTB tidak bisa lagi bertumpu pada cara-cara lama. Teknologi, menurut dia, menjadi prasyarat mutlak jika NTB ingin kembali menempatkan diri sebagai lumbung pangan dunia.

Pernyataan itu disampaikan Iqbal saat menghadiri serah terima jabatan Kepala Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian NTB (BPSIP/BRMP NTB), Selasa, 10 Februari 2026. Jabatan tersebut beralih dari Awaludin Hipi kepada Hendro Cahyono.

Iqbal memaparkan sejumlah indikator yang ia klaim menunjukkan perbaikan sektor pertanian NTB. Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat naik dari 123 pada awal 2025 menjadi 131 di awal 2026. Indeks Pertanaman (IP) di beberapa wilayah juga melonjak, dari satu kali tanam menjadi dua hingga tiga kali setahun.

“Petani mulai merasakan hasilnya. Biaya produksi turun, pupuk lebih mudah, air tersedia, dan harga gabah relatif stabil,” kata Iqbal. 

Namun, ia mengingatkan capaian itu belum cukup untuk menjawab tantangan jangka panjang. Menurut Iqbal, ruang perluasan lahan di NTB khususnya Pulau Lombok kian terbatas. Karena itu, satu-satunya jalan adalah meningkatkan produktivitas melalui intensifikasi berbasis teknologi. 

Ia membandingkan produktivitas padi NTB dengan negara lain. “Tanah kita subur, iklim kita mendukung. Tapi ada negara dengan lahan berbatu bisa panen 10 ton per hektare, sementara kita masih 6–7 ton. Selisihnya bukan pada alam, tapi pada teknologi,” ujarnya.

Iqbal mendorong perubahan cara bertani, dari berbasis kebiasaan menuju berbasis data. Ia meminta petani mulai memanfaatkan teknologi digital, termasuk ponsel pintar, untuk memantau kondisi tanah dan tanaman.

“Ponsel jangan hanya dipakai untuk media sosial. Gunakan untuk cek pH tanah, kebutuhan hara, dan kondisi lahan. Bertani jangan lagi dengan perkiraan,” katanya.

Pemerintah Provinsi NTB, lanjut Iqbal, akan memperkuat kolaborasi dengan BRMP dan Dinas Pertanian untuk memperluas penerapan smart farming. Fokusnya bukan sekadar menaikkan produksi, tetapi memastikan kesejahteraan petani.

“NTB tidak boleh hanya jadi daerah tanam. Kita harus bangun ekosistem pangan utuh dari benih, budidaya, pascapanen, sampai hilirisasi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BRMP Pusat Fadjri Djufry menyebut NTB kini masuk dalam tujuh provinsi yang memiliki Balai Lahan Irigasi Pertanian. Fasilitas ini, kata dia, menjadi bagian dari percepatan transformasi pertanian modern berbasis riset dan teknologi spesifik lokasi.

Salah satu fokus strategis BRMP adalah menjadikan Sembalun, Lombok Timur, sebagai pusat penyiapan benih bawang putih nasional. Indonesia masih mengimpor sekitar 600–700 ribu ton bawang putih setiap tahun.

“Kami sudah menguji tujuh varietas unggul dengan potensi hasil 24–25 ton per hektare. Ini bagian dari teknologi Produksi Lipat Ganda untuk mengejar produktivitas dan mengurangi impor,” kata Fadjri.

Ia menekankan peran Kepala BRMP NTB yang kini strategis dalam pelaksanaan berbagai program kementerian, mulai dari cetak sawah, optimasi lahan, hingga verifikasi petani dan lahan.

Fadjri juga mengapresiasi komitmen Gubernur NTB terhadap sektor pertanian. Ia berharap kepemimpinan baru BRMP NTB mampu mempercepat lompatan pembangunan hortikultura, peternakan, dan perkebunan melalui pemanfaatan ribuan inovasi teknologi yang tersedia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....