Harga Meroket, Gubernur Minta Cabai Tidak Jual ke Luar Daerah

  • 10 Feb 2026 09:41 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Menjelang bulan puasa, harga cabai di sejumlah pasar tradisional Nusa Tenggara Barat (NTB) melonjak tajam. Hasil pantauan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) NTB harga cabai di Pasar Mandalika, Kota Mataram tembus Rp95 ribu per kilogram.

“Cabai rawit yang biasanya di kisaran Rp50 ribu sekarang sudah Rp95 ribu. Ini yang coba kita lakukan intervensi pasar,” kata Iqbal, di Pasar Mandalika, Selasa, 9 Februari 2026.

Untuk menekan gejolak harga, Iqbal mengimbau petani dan pengepul cabai di NTB agar sementara waktu tidak menjual hasil panen ke luar daerah. Pemerintah daerah meminta pasokan difokuskan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan lokal.

“Petani dan pengepul cabai kita minta fokus memenuhi kebutuhan NTB. Jangan dulu kirim keluar. Kalau stok di dalam kurang, harga bisa makin tidak terkendali,” ujarnya.

Iqbal menegaskan cabai merupakan komoditas strategis bagi masyarakat NTB. “Orang Lombok ini tidak bisa kurang cabai. Stok harus cukup supaya kita masuk bulan puasa dengan harga yang relatif stabil,” katanya.

Selain imbauan tersebut, pemerintah provinsi akan menggelar Gerakan Pangan Murah di berbagai pasar di NTB. Salah satu komoditas yang dijual dengan harga di bawah pasar adalah cabai. Pemerintah akan berkoordinasi dengan para pemilik stok besar atau champion cabai di Lombok Tengah dan Lombok Timur.

“Ini mekanisme pasar. Mau tidak mau kita imbau pemilik stok untuk mengeluarkan cadangannya dan menjual di bawah harga pasar. Keuntungan mereka sejauh ini juga sudah cukup besar,” ujar Iqbal.

Menurutnya, lonjakan harga cabai tidak sepenuhnya disebabkan kelangkaan pasokan. Faktor cuaca disebut berpengaruh karena hujan membuat sebagian petani gagal panen optimal. Selain itu, distribusi cabai ke luar daerah seperti Jawa serta peningkatan permintaan menjelang puasa ikut mendorong harga naik.

Terkait dugaan praktik spekulasi atau penimbunan, Iqbal menyatakan hingga kini belum ditemukan indikasi kuat. “Mudah-mudahan tidak. Dari Polda dan Bank Indonesia ikut memantau. Cabai juga tidak bisa ditimbun lama karena cepat busuk,” katanya.

Sementara itu, menanggapi keluhan warga soal harga minyak goreng yang menembus Rp20 ribu per liter, Iqbal menyebut pemerintah masih relatif mampu mengendalikan distribusi minyak subsidi melalui Bulog dan jalur resmi.

“Produk yang di luar kontrol pemerintah seperti cabai ini yang jadi fokus kita agar tidak menjadi beban masyarakat menjelang puasa,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi NTB juga akan menggelar rapat koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk memperkuat pengendalian harga. “Besok ada rakor. Kita minta daerah memanfaatkan champion yang ada dan mengendalikan pasar melalui pemilik stok,” kata Iqbal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....